Agama Adalah Fitrah Manusia

Seminggu rasanya begitu cepat menjalani study tours ke luxor dan aswan, karena memang kami begitu asyik menikmati keindahan object wisata di sana, selain karena guider nya yang super enak, juga karena service yang di berikan kepada kami sangan memuaskan, di sana kami jumpai beberapa tempat yang sungguh menakjubkan, luxor adalah ibu kota mesir kuno, sebelum akhirnya di tetapkan di kairo, luxor dan aswan ini terletak di bagian selatan negara mesir berbatasan langsung dengan negara Sudan, suku yang ada di sana juga suku Afrika blesteran Arab, kulit hitam, namun berbahasa arab. Adapun object wisata yang ada disana cukup beragam, akan tetapi yang sangat menonjol di sana adalah bekas-bekas peninggalan raja-raja Mesir kuno, dan juga candi-candi.


Sesuatu yang terbesit di fikiran saya ketika melihat beberapa candi di sana adalah betapa mereka memang mempunyai jiwa arsitek yang cukup tinggi, hal ini terbukti dalam pembuatan candi yang begitu megah dengan batu yang hanya di pahat dengan alat seadanya, dan juga artefak artefak yang tertulis di dinding dinging tembol candi, begitu jelinya mereka memahat pahatan. Salah satu yang menjadi ketertarikan saya adalah kesimpulan bahwa betapa beragama itu adalah sebuah fitrah dan naluri alamiah, hal ini dapat kita dapati, setiap ma’bad atau candi yang di buat di situ ada sebuah simbol dewa-dewa yang mereka anggap sebagai Tuhan, misalnya saja di kom ombo temple, di situ ada tuhan yang di sebut Sobek, sobek adalah nama Tuhan yang bertubuh manusia berkepala buaya, konon, pada zaman ini, buaya adalah salah satu hewan yang sangat di takuti oleh penduduk sekitar karena acap kali mereka berlayar ke sungai nil, sering terjadi kejadian, buaya yang memangsa manusia, dengan sebab ini, mereka menjadikan Sobek sebagai Tuhan, tentu dengan harapan dengan menjadikan God  Crocodile (Sobel) sebagai Tuhan mereka akan selamat dari bahaya yang menimpa mereka, selain Sobek kita juga mendapati candi-candi yang lain, kebanyakan motif mereka mendirikan candi adalah untuk mempersembahkannya untuk Tuhan, misalkan saja Edfu, candi yang berdiri pada zaman kekuasaan Yunani-Romawi ini, di dedikasikan untuk Tuhan yang bernama Horus, begitu juga dengan candi-candi yang lain, seperti karnak, luxor dsb.


Dewa dewa yang mereka buat-buat ini mereka gunakan sebagai tempat untuk berteduh, tempat mengadu di saat sedih, bahagia, terluka, atau dengan kata lain mereka ingin ada sebuah tempat pengaduan, tempat mengeluh, tempat curhat ketika tiada lagi pengaduan pada manusia. Secara tidak langsung dapat kita katakana bertuhan adalah sebuah fitrah manusia, itu yang dapat saya simpulkan, itulah mengapa kita yang di dunia ini membutuhkan agama, karena hanya agama yang dapat menjawab unsur unsur yang di butuhkan oleh fitrah manusia, bahkan lebih dari itu, dalam tubuh agama ada semacam fondasi yang musti di tetapi untuk bisa di sebut sebagai orang yang agamis, di antaranya unsur keilahian dan unsur akhlak, dua hal ini lah membuat pondasi bangunan agama tidak bertentangan dengan tabiat naluriah setiap diri manusia.


Sejak Nabi Adam di turunkan ke bumi ini, para Nabi mendasarkan ajarannya pada dua hal di atas, tentunya berbekal pada akal manusia, agama menyandarkan pada tabiat manusia sehingga dakwah-dakwah yang di lakukan oleh para Nabi tidak di tentang oleh mereka yang melihat agama dari sisi hati nuraninya, dengan sebab inilah agama adalah fondasi yang sangat kuat, meski banyak permasalahan terjadi pada penentang dan pemeluknya, itu tidak menafikan bahwa agama adalah Fitrah


Sudah berjuta-juta abad bumi ini ada, ribuan Rasul dan Nabi, turun di bumi untuk menyampaikan risalah samawy,  dan risalah risalah itu masih tetap tegak di muka bumi ini, hal ini menguatkan bahwa inti dari ajaran agama itu sendiri adalah sebuah fitrah manusia, selama manusia masih ada di muka bumi ini, selama manusia itu masih mempunyai Fitrah, cahaya fitrah ini tak akan pernah padam, bahkan ia akan bersinar dan tetap menyala sampai pada titik dimana manusia dan fitrah itu sendiri tiada.


Perlu di garis bawahi bahwa unsure ilahy dan akhlak manusia ini bukanlah sesuatu yang di buat-buat, mungkin saja seseorang dengan usahanya dapat menghilangkan dua unsur tersebut, akan tetapi ia atau dua unsure di atas itu adalah sesuatu yang ghorizy (bawaan), sesuatu yang memang dari tabiat alamiah manusia. Justru kalau kita melihat sejarah-sejarah manusia, mulai jaman fir’aun, sampai pada kerajaan romawi dan Yunani yang terdapat pada peninggalan mesir kuno, menunjukkan bahwa mereka juga dua hal di atas adalah panggilan hati nurani yang muncul dari hati manusia, ia akan senantiasa ada selama manusia ada di muka bumi ini, dan akan tetap ada sampai hari berakhirnya bumi datang.


Mungkin bagi sebagian orang bisa saja ia menghilangkan naluri alamiah ini, akan tetapi usaha-usaha yang di lakukan oleh mereka itu tidak akan mampu menghilangkan secara keseluruhan, Kita ambil sample, sebuah rasa ketertarikan terhadap lawan jenis, konon di Eropa dan India, sebagian orang dengan sengaja tidak menikah, yang tentunya dengan beberapa alasan yang mereka jadikan pegangan, entah itu karena motif agama, atau karena mereka ingin meninggalkan dunia, apapun alasannya itu, mereka tidak dapat mengingkari bahwa memang pada diri setiap individu ada fitrah yang di situ tidak dapat di hilangkan.


Itulah mengapa agama Islam di katakan sebagai agama yang fitrah, karena ajaran islam tidak bertentangan dengan fitrah manusia, bahkan lebih dari itu, islam memandang kata “Fitrah” lebih luas, ia tidak hanya memamdang manusia dari sisi “Insaniyyah” atau kemanusiaannya, tetapi juga dari sisi “Khilqoh” atau penciptaannya, apakah ia laki-laki atau ia perempuan. Itulah mengapa islam membedakan antara laki-laki dan perempuan dalam hak dan kewajiban. Islam tidak membolehkan wanita untuk menjadi seorang presiden, islam membedakan bagian warisan, Islam mewajibkan nafakah keluarga hanya dari lelaku. Itu semua semata-mata bukan karena islam memandang wanita dengan pandangan yang merendahkan diri wanita.


Tugas para Nabi dan Rasul kalau bias di katakan mereka itu hanya membangunkan sisi fitroh manusia yang telah tertidur dan yang telah mati, dan membangkitkan sisi nurani manusia. Perlu kita renungkan salah satu ayat AlQur’an Surat Arrum : 30

فأقم وجهك للدين حنيفا فطرة الله التي فطر الناس عليها


“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah.(Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”


Betapa buruknya perilaku seseorang, betapa bejatnya akhlak seseorang, mereka tidak akan mampu mengingkari tentang fitrahnya, bahwa ia membutuhkan Tuhan, ia membutuhkan tempat pengaduan di saat tiada satupun yang mau mendengarkan pengaduannya, sebagaimana ia membutuhkan makan dan minum.


Aswan, 03 – 02 - 2013

Rasa Aman Damai Dalam Islam



islam agama damai Akhir-akhir ini dunia sering di landa rasa was-was, rasa mencekam, mulai dari krisis di tunisia, krisis di mesir, dan yang terakhir di libya, serta Negara yaman, sebagian kondisi Negara yang saat ini hangat di bicarakan di banyak media masa baik elektronik maupun cetak. Begitu juga dengan negara kita, akhir-akhir ini banyak sekali isu-isu terorisme, penyerangan ahmadiyyah, pengeboman masjid polisi di daerah cirebon. Saya merasakan bahwa rasa aman di dunia ini sudah mulai terkikis dari dunia ini, terlebih kita yang notabene sebagai orang muslim, serta kasus kapal kudus yang di hadang oleh bajak laut, Somalia, yang notabene bajak laut itu salah satu pemimpinnya beragama islam, seakan hati kita ingin bertanya, betapa sulit mencari rasa aman di dunia muslim saat ini.

Saya tidak ingin menjustice ataupun mempersalahkan kondisi kaum muslim saat ini, saya hendak memaparkan bagaimana sebenarnya islam memberikan rasa aman kepada umatnya, dan bagaimana islam menjamin rasa aman itu, dan dengan wujud apakah itu?



  • Definisi Kata Aman (اللأمن )


 


Secara bahasa kata aman, berasal dari kata amina, yang berdekatan makna dengan ; amanah dan juga, dan iman, kebalikan dari kufur, dalam alqur’an dan al hadist banyak menyinggung segala sesuatu yang bisa membuat manusia merasa aman dan damai dalam kehidupannya. Dan juga selalu memerintahkan untuk menjauhi segala hal-hal yang dapat membuat manusia merasa teraniaya, terintimidasi, goncang dan lain sebagainya. Dalam berbicara tema ini al qur’an membicarakannya dalam dua metode :


  1. Memberikan indicator tentang sesuatu yang bias membuat kita aman damai dan sejahtera,

  2. Secara explisit menyinggung tentang rasa aman,yang di ungkapkan dalam bahasa alqur’an secara langsung.


Yang pertama dapat kita lihat ketika zaman jahiliyyah sebelum islam datang, masyarakat waktu kehilangan rasa amannya, perbedaan suku dan ras yang mencolok, perbudakan yang masih menjadi hal yang biasa, pertengkaran antar suku yang terkadang menimbulkan peperangan, tidak ada penghormatan terhadap perempuan, penyembahan terhadap patung yang notabene benda mati.

Setelah islam datang yang di bawa oleh Rasulullah, rasa aman damai dan tentram di rasakan oleh penduduk warga arab setempat, hal ini tentu mengadung beberapa pertanyaan, mengapa bisa seperti itu? Ada apa dengan ajaran yang di bawa oleh Rasulullah, mungkin kita dapat menelaah sebagian manhaj yang di ajarkan oleh Rasulullah melalui apa yang di bawa Beliau kepada kita melalui alQur’an dan asshunnah.



  •          Eksistensi Iman



Iman Kepada Allah, dan ajakan terhadap setiap manusia untuk selalu menyembah-Nya, dengan satu pegangan yaitu Alqur’an dan assunnah, iman inilah yang memberikan kekuatan kepada manusia untuk menebarkan kebajikan di setiap detik nafas kehidupannya, saling berkasih sayang sesama manusia. Mereka semua sama di ciptakan dari satu bapak, yaitu Nabi Adam, dan nabi adam di ciptakan dari debu, sehingga bagaimanapun tiada saling unggul antara satu sama lain, toh semuanya sama dari penciptaannya, kecuali takwa yang membedakan satu sama lainnya.

Ketika keyakinan itu telah meresap dalam hati setiap muslim, maka pasti mereka akan membenci segala bentuk saling mengungguli satu dengan yang lain, saling sombong, rasa amanlah yang akan timbul.

Era globalisasi sekarang ini manusia kurang mampu untuk menanamkan rasa bahwa semua orang itu sama di hadapan Allah, akibatnya Negara-negara yang maju malah justru saling berebut kekuasaan terhadap Negara yang lemah.



  • .       Agama yang sesuai dengan Fitrah manusia



Aspek yang memperngaruhi bahwa islam itu adalah agaman yang damai adalah, Universalitas nya Islam, agama ini berbeda sekali dengan agama-agama yang lain sebelum islam, hal ini terlihat dari ajaran-ajaran pokok agama islam, agama yang sesuai dengan fitrah manusia di ciptakan agama yang memperhatikan kemampuan manusia, agama yang tidak memaksa, agama yang moderat, hal ini sejalan dengan tabiat manusia, semua makhluk sama di hadapan undang-undang.

Karena universalitasnya inilah sehingga islam mampu memberikan rasa damai dan tenteram sesama manusia, beberapa hadist dan ayat alqur’an menyinggung hal ini seperti dalam alQur’an “ya ayyuhannasu innaa kholaqnakum min dzakarin wa untsa waja’alnakum syu’uban waqobaila lita’arafu” (Q.S al hujurat : 13). Wahai manusia telah Kami jadikan kalian laki-laki dan perempuan, dan Kami jadikan bergolong-golongan dan berqobilah-qobilah, untuk kalian saling mengetahui, Dari ayat ini jelaslah bahwa manusia itu sama.



  • .       Umat yang Satu



Islam mengibaratkan umat ini sebagai sisir, semuanya berhak memperoleh bagian yang sama, tanpa membedakan antara si kaya dan si miskin, antara si putih dan si hitam, jalan inilah yang membuat manusia bias hidup berdampingan,merasa aman pada harta, pada diri, dan harga dirinya. tanpa adanya sifat sombong, sifat meremehkan terhdap yang lainnya,

Sebagai tambahan bahwa agama islam adalah agama yang cinta damai (salam) bahwa Allah menamai Diri-Nya sebagai Assalam, bahkan surga dalam alqur’an di sebut sebagai Darussalam atau rumah kedamaian kalau dalam bahasa indonesianya. Bahkan Allah memerintahkan kepada Rasulullah untuk mengutamakan jalan damai, ketika berperang melawan musuh. Seperti dalam ayat “wain janahu lissilmi wajnah laha watawakkal ‘alallah” (Q:S, Al Anfal :  61)

Timbul sebuah pertanyaan, ketika kita tahu bahwa islam itu agama damai, lantas kenapa, islam memperbolehkan untuk berperang, dan menyebut orang yang berperang sebagai seorang mujahid, seorang yang berhak memperoleh pahala yang berlipat ganda dari Allah?

Perang dalam islam bukanlah hal yang pokok untuk di lakukan, perang di lakukan hanya pada kondisi-kondisi tertentu, untuk menjaga Akidah, dan untuk melawan musuh yang dzalim, dan memusuhi islam. Seperti dalam ayat “Udzina lilladzina yuqotiluna biannahum dzulimu” di ijinkan bagi orang yang membunuh karena dia di dzalimi (QS Al Haj : 39)

Perang dalam islam hanya di lakukan dalam kondisi darurat, sehingga hal itu bias di katakana wajar saja kalau perang sebagai wujud dari upaya pembelaan diri, perang yang di maksudkan bukan untuk merusak, secara kasat mata perang inilah yang damai, bukan perang yang sering kita ketahui sebagai penjajah.



  •          Gotong Royong (attakaful)



Islam sangat mengajarkan untuk selalu bergotong royong satu sama lainnya, semanga takaful ini bukan hanya pada hal yang sifatnya materi saja, akan tetapi lebih dari itu dalam segala aspek kehidupan ini kita di tuntut untuk ringan tangan kepada siapapun, dan bukan hanya orang muslim, tetapi orang nonmuslim juga berhak terhadap ke ringan tanganan kita, karena akidah kita memerintahkan untk memulyakan semua manusia, bukan hanya terbatas pada islam atau tidaknya orang itu saja, sehingga dengan inilah rasa aman rasa damai akan timbul dengan sendirinya, bagaimanapun semangat takaful ini senantiasa membuat aman karena disetiap detik nafasnya ada yang menolong ada yang menyantuni ada yang menopang ketika seseorang mendapatkan musibah dan lain sebagainya.

Ketika semangat iman, takaful, saling menasehati, dan seharusnya memang harus tertanam di benak setiap muslim karena itu semua adalah ajaran agama kita, maka rasa damai dan tentram dapat dengan mudah kita dapati, karena dalam setiap aspek itu terdapat nilai-nilai saling menghormati, nilai saling mengasihi, bukan saling mengintimidasi, yang ujung-ujungnya berdampak kepada saling membunuh, saling menyepelekan, nilai islam semacam inilah yang hilang dari kehidupan modern saat ini. Wallahu a’lam


Profil Zakir Naik

Zakir Naik, 100 Orang India Terkuat 2009

Nama asli Zakir Abdul Karim; terlahir pada 18 Oktober, 1965 Mumbai (Bombay pada waktu itu) beliau adalah seorang pembicara umum Muslim India, dan penulis keislaman dan perbandingan agama. Secara profesi, ia adalah seorang dokter medis, memperoleh gelar Bachelor of Medicine and Surgery (MBBS) dari Maharashtra, tapi sejak 1991 ia telah menjadi seorang ulama yang terlibat dalam dakwah Islam dan perbandingan agama.

Zakir Naik merupakan keturunan Konkani. Ia bersekolah di St. Peter's High School (ICSE) di kota Mumbai. Kemudian bergabung dengan Kishinchand Chellaram College dan mempelajari kesehatan di Topiwala National Medical College and Nair Hospital di Mumbai, India. Ia kemudian menerima gelar MBBS-nya di University of Mumbai. Tahun 1991 ia berhenti bekerja sebagai dokter medis dan beralih di bidang dakwah atau proselitisme Islam.

Naik mengatakan ia terinspirasi oleh late Ahmed Deedat, (seorang Da’i yang meninggal pada 8 Agustus 2005 yang mana oleh orang Kristen sendiri menganggap meninggalnya akibat kualat karena sering mengolok-olok Kristen, setelah sebelumnya berceramah di Sidney Australia, tentang Paskah : Dilihat dari Sudut Pandang Islam)  Menurut Naik, tujuan dia menggeluti dunia dakwah adalah "berkonsentrasi pada remaja Muslim berpendidikan yang mulai meragukan agamanya sendiri dan merasa agamanya telah kuno, dan kurang PD terhadap agamanya sendiri" dan juga adalah tugas setiap Muslim untuk menghilangkan kesalahpahaman tentang Islam untuk melawan apa yang ia anggap sebagai bias anti-Islam oleh media Barat setelah serangan teroris 11 September 2001 terhadap Amerika Serikat.

Thomas Blom Hansen, seorang sosiolog yang memegang posisi akademik di berbagai universitas, telah menulis bahwa gaya Naik mengabadikan Qur'an dan hadits dalam berbagai bahasa, dan bepergian ke berbagai negara untuk membicarakan Islam bersama para teolog, telah menjadikannya sangat terkenal di lingkungan Muslim dan non-Muslim. Meskipun ia biasa berbicara kepada ratusan hadirin, dan kadang ribuan hadirin, justru rekaman video dan DVD ceramahnya yang banyak didistribusikan. Perkataannya biasa direkam dalam bahasa Inggris, untuk disiarkan pada akhir pekan di sejumlah jaringan TV kabel di lingkungan Muslim Mumbai, dan di saluran Peace TV, sebuah stasiun televisi milik beliau. Topik yang sering ia bicarakan mencakup: "Islam dan Ilmu Pengetahuan Modern", "Islam dan Kristen", dan "Islam dan Sekularisme", dan lain sebagainya.

Diantara pendapat-pendapat beliau sungguh mencengangkan publik, bahkan ketika beliau dengan tenang hati mampu mengalahkan lawan debatnya di beberapa diskusi keagamaan sampai bisa membuat tepuk tangan penonton, hal ini karena banyak dari argumen yang beliau gunakan sungguh bisa di terima oleh akal sehat.

Diantara pendapat itu adalah tentang keajaiban alqur’an, alqur’an yang telah turun 1400 abad yang lalu merupakan salah satu kitab yang menurut beliau adalah kitab yang sangat luar biasa, karena didalamnya terdapat fenomena yang tak sedikit fenomena itu di ketemukan pada akhir-akhir ini.

Ketika berbicara tentang astronomi misalnya, sebuah teori yang sangat terkenal teori Big Bang teori dimana bumi terbentuk sebuah ledakan besar, dan kemudian ledakan besar itu terpecah menjadi sebuah galaksi, planet, rembulan, bintang dan benda luar angkasa lainnya, jauh-jauh hari kejadian ini sudah din ash oleh alqur’an أولم يرواالذين كفرواأن السموات والأرض كانتا رتقا ففتقناها kata رتقا  bermakna satu atau bersama dan kata ففتقناها  bermakna Kemudian Kami belah. sebuah kebenaran menarik ini sungguh sangat mencengangkan, bagaimana kitab yang turun lebih dari 1400 abad yang lalu itu mampu menggambarkan sebuah kejadian yang teorinya baru di temukan pada akhir-akhir ini.

Pada zaman dahulu orang percaya bahwa bentuk bumi itu datar, dan bukan bulat, tapi keyakinan itu mulai sirna, setelah orang kewarganegaraan prancis Sir Francis Drake meneliti hal itu, dan berkesimpulan bahwa bentuk bumi itu bulat, pada tahun 1597, tapi justru alqur’an jauh sebelum Sir Francis Drake menemukan hal itu kitab itu sudah mencantumkan hal itu, seperti dalam alqur’an ألم ترأن الله يولج الليل فلى النهار ويولج النهار فى ليل  hal ini tentu tidak akan terjadi jika bentuk bumi tidak berbentuk bulat, bahkan alqur’an menambahkan bahwa bentuk bumi itu bukan berbentuk bulat, tapi bentuknya berbentuk seperti telur, sebagaimana dalam ayat qur’annya والأرض بعد ذلك دحها kalimat دحها adalah sebuah kalimat yang berarti egg atau telur.

Secara sekilas orang-orang percaya bahwa rembulan dapat memancarkan cahayanya sendiri namun sekarang para ilmuwan mengatakan kepada kita bahwa sinar rembulan tidak timbul dari dirinya sendiri, tetapi ia adalah ia berupa pantulan dari sinar matahari. Dan bagaimanapun itu, fakta ilmiah ini telah di gambarkan dalam alqur’an 1400 abad yang lalu. تبارك الذى جعل فى السماء بروجا وجعل فيها سراجا وقمرا منيرا  dalam kata وقمرا منيرا kata rembulan di sandarkan kepada kata منيرا  yang diterangi bukan menerangi.

Terakhir menurut beliau bagaimanapun alqur’an bukan buku saintis , tetapi alqur’an adalah sebuah buku signs atau tanda-tanda yang senantiasa menganjurkan kepada manusia untuk senantiasa serasi dengan kehidupan di dunia, dan sekaligus alqur’an sebagai sebuah bukti nyata bahwa Allah itu benar-benar ada.

Pesan beliau, bahwa agama itu masuk akal, terlebih agama islam, semua ajarannya pasti masuk akal, tidak mungkin tidak, dengan keyakinan seperti ini banyak pendapat beliau yang sangat di terima oleh khalayak umum, beliau mengutip statemen alfa Edison, “sains tanpa agama adalah pincang, dan agama tanpa sains adalah buta” sehingga pantas saja dengan keberanian beliau mengungkapkan beberapa kenyataan yang terkadang beliau dengan berani mengatakan salah, ketika hal, atau doktrin itu tidak sesuai dengan kenyataan ilmiah, Dalam terbitan 22 Februari 2009, Indian Express membuat daftar "100 Orang India Terkuat 2009" di antara satu milyar penduduk India, Zakir Naik masuk peringkat 82. Dalam daftar khusus "10 Guru Spiritual Terbaik India", Zakir Naik ada di peringkat 3, setelah Baba Ramdev dan Sri Sri Ravi Shankar, menjadi satu-satunya Muslim di daftar ini.

Cinta Menurut Pandangan Islam


Dalam kehidupannya manusia tidak dapat terlepas dari dua sisi, sisi jasmaniyyah dan sisi rohaniyyah, dalam sisi jasmaniyyahnya manusia mempunyai sebuah kecenderungannya untuk berfikir, untuk makan untuk minum, dan untuk tidur, tapi dibalik itu ada dimensi lain yang dimiliki oleh manusia yaitu dimensi perasaan atau sisi rohaniyyah, dimensi perasaan inilah yang banyak mempengaruhi identitasnya sebagai manusia, dan yang membedakannya dari orang lain. Perasaan inilah yang menimbulkan suka senang, benci, bahkan karena saking eratnya manusia akan perasaan ini sampai terbentuk salah yang sering disebut sebagai hari kasih sayang sedunia, yang dirayakan setiap tahun oleh orang-orang sedunia dan juga tidak ada salahnya jika saya sedikit mengupas tentang cinta, lebih khusus lagi cinta dalam perspektif islam atau konsep islam.



Dalam karya monumental, ihya ulumuddin Imam Ghazali memaparkan hakikat perasaan cinta dan hubungannya dengan perasaan yang lain, tentang bagaimana hubungannya dengan perasaan yang lain, bagaimana definisi cinta dan macam-macam cinta, dan apa dan bagaimana cinta kepada Allah. Imam ghozali mengawali pembicaraannya dengan sebuah definisi perasaan cinta, macam-macam cinta, dan sebab yang membuat manusia untuk mencintai dalam kehidupan ini.



Dalam sub bab “bayani hakikatil mahabbah wa asbabuha watahqiqil ma’na mahabbatul ‘abdi lillah, imam ghozali mengatakan bahwa sebuah cinta tidak dapat tumbuh kecuali setelah mengetahui dan benar-benar tahu siapa yang dicintai itu, karena bagaimanapun adalah sebuah kemustahilan jika manusia tiba-tiba mencintai kepada orang yang yang belum pernah di temui sebelumnya kemudian bilang aku cinta padamu. karena cinta menurut beliau adalah min khosoishil mudrik (hanya orang-orang yang tertentu, yang dapat menemukan cinta) lebih jauh lagi beliau mendefinisikan cinta sebuah ungkapan tentang kecenderungan watak seseorang kepada sesuatu yang bisa memancarkan sebuah kelezatan. dan apa bila kemudian kelezatan itu semakin bertambah dan semakin kuat maka itulah yang menurutnya disebut sebagai sebuah kerinduan.



Cinta terbagi menjadi beberapa macam, salah satunya yaitu panca indera dimana ia mempunyai rasa cinta dan kenikmatan tersendiri ketika melihat sesuatu yang dianggapnya lezat, seperti mata misalnya, ia akan merasakan kenikmatan ketika melihat sesuatu yang indah, telinga ketika ia mendengarkan suara yang merdu ia akan merasakan kenikmatan tersendiri, begitu pula dengan hidung ia akan merasakan kenikmatan ketika ia mencium bau yang wangi. Dan seterusnya.



Apabila dalam hal ini cinta dapat terjadi pada hal-hal sifatnya dapat di jangkau oleh panca indera, cinta pula dapat dijangkau dengan akal dan hati, bahkan ia lebih peka jika di bandingkan dengan panca indera yang lainnya, indera perasaan atau dalam hal ini adalah hati lebih peka dari pada indera penglihatan atau mata, itulah sebabnya ada pepatah yang mengatakan lebih baik sakit gigi dari pada sakit hati.



Lebih lanjut lagi imam ghozali berpendapat bahwa watak asli manusia itu lebih menyukai dirinya ketimbang orang lain, bahkan mencintai orang lainpun tak jarang hanya karena dirinya sendiri atau kalau bahasa kasarnya “ada maunya”, bagaimanapun cinta pada sesuatu adalah sebuah kewajaran yang di miliki manusia, bahkan ini adalah hal yang sangat wajar di kehidupan manusia, justru adalah sebuah kekurang wajaran jika manusia menutup pintu cinta, lalu mencintai itu di larang, tentu akan timbul sebuah keegoisan di kalangan manusia itu sendiri.



Cinta yang kedua yaitu cinta kepada anak dan istri kepada kawan dan kepada sehabat dekatnya, cinta ini bukanlah sebuah penyempurnaan cinta kepada diri sendiri, bahkan inilah yang disebut oleh imam ghozali dengan hakikat cinta yang sebenarnya, sebuah rasa kecintaan manusia terhadap sesuatu yang di anggap sebagai keindahan yang patut dicintai, bahkan tidak berlebihan jika kita mengatakan bahwa memang cinta dan keindahan itulah unsur yang saling berhubungan erat, karena manusia yang merasakan cinta dalam hatinya pasti ia akan menemukan segala keindahan tertuang di dalamnya, kalau dalam bahasa anak muda sekarang dunia serasa milik kita berdua.



Seperti kata syair “seseorang yang tidak dapat merasakan keindahan maka dia tidak akan ia dapati kehidupan ini sesuatu yang indah. Dengan kata lain, orang yang tidak mempunyai rasa cinta ia akan mendapati sesuatu yang buruk, jelek, benci dan perasaan buruk yang lainnya.



Setelah kita sepakati bahwa segala sesuatu yang indah itu sesuatu yang dicintai adalah definisi dari cinta itu sendiri, seperti yang telah di paparkan di atas, maka “Ketika kita katakan Allah itu adalah dzat yang indah maka tiada penyangkalan lagi untuk di cintai” Dan kemudian apabila seseorang yang telah berjuang untuk mencari keredlaan Allah kemudian ia temukan sebuah keindahan Allah maka cintalah jawabannya, seperti apa yang telah disinggung dalam hadist Nabi “sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai sesuatu yang indah”.



Tentu keindahan yang dimaksudkan disini bukanlah keindahan seperti yang kita anggap selama ini, karena keindahan yang di miliki oleh Allah adalah berbeda dengan keindahan yang kita rasakan di dunia ini, karena Allah yatanazzahu minhu, Terakhir dapat kita simpulkan sebab-sebab manusia mencintai ;



- Kecintaan manusia karena dirinya sendiri, cinta kepada kesempurnaan dirinya



- Kecintaan manusia karena seseorang dan sesuatu yang berbaik hati atau berjasa kepada dirinya



- Kecintaan manusia karena seseorang yang berbaik hati kepada dirinya di hadapan pandangan orang lain, walaupun tidak secara langsung kepada dirinya.



- Kecintaan manusia karena sesuatu yang mempunyai unsur keindahan



- Kecintaan manusia karena sesuatu dan seseorang yang memang ada tali pengikat antara keduanya.



Imam ghazali menyimpulkan kelima sebab ini tidak kita temui kesempurnaannya kecuali menyandarkan semuanya kepada Allah, karena yang dapat memenuhi dari kelima cinta itu hanyalah Allah. dari sinilah tidak ada yang berhak atas cinta manusia kecuali Allah saja. Dan tidak ada yang patut di cintai kecuali Allah saja, hal ini al qur’an menyebutnya sebagai ciri khas orang mukmin adalah cintanya kepada Allah melebihi cintanya kepada yang lainnya “Dan orang-orang yang beriman lebih cinta kepada Allah” (QS : Albaqoroh:165)



Begitulah ruang lingkup cinta manusia, cinta memang terbagi menjadi bebarapa macam, dan berbeda dalam beberapa aspek dalam setiap lini kehidupan, namun semua itu bemuara hanya kepada satu cinta, cinta kepada Allah, inilah cinta hakiki yang seharusnya mempengaruhi manusia untuk mencintai yang lainnya, dengan kata lain dengan cinta terhadap Allah maka secara otomatis cinta kepada yang lainnya akan ikut dengan sendirinya, mulai dari cinta terhadap manusia, sayang terhadap binatang, ramah terhadap lingkungan sekitar dan lain sebagainya.



Maka dari itu cinta terhadap Allah bukan berarti kita menolak untuk memberikan cinta itu kepada orang atau sesuatu di sekitar kita, justru hal seperti itu malah sesungguhnya tidak termasuk cinta kepada Allah yang sebenarnya.



Satu hal yang pasti bawa cinta kepada Allah bukanlah cinta yang egois, dimana cinta kepada Allah dan mengabaikan cinta kita kepada orang lain, akan tetapi cinta itu saling berbagi, antara pencipta dan yang diciptakan dalam hal ini adalah manusia, seperti dalam firman Allah, “katakanlah hai Muhammad jika kalian mencintai-Ku (Allah) maka ikutilah aku (Nabi Muhammad)”



Sesungguhnya cinta itulah payung dari kehidupan, kehidupan tanpa cinta tak kan pernah ada artinya, saat cinta tersebar dikalangan sesama insan akan menjadikan mereka mau untuk bersedekan, berinfak memberi, menolong, rela berkorban, begitu pula menyebarkan cinta kepada lingkungan sekitar akan timbul kebersihan lingkungan, kenyamanan dan ketentraman yang tentunya merupakan dambaan semua orang, seperti itulah jika cinta kepada Allah di realisasikan, cinta yang dapat menumbuhkan spirit untuk mencintai yang lain sebagaimana mencintai diri kita sendiri, la yu’minu ahadukum hatta yuhibbu li akhihi ma yuhibbu linafsihi. Seperti itulah kiranya cinta kepada Allah. Wallahu A’lam

Katakan Kita Salafi, Bukan Aku Salafi

Sejenak browsing di dunia maya, mencari-cari di google.co.id artikel tentang jamaah tabligh, akhirnya ketemu juga, meski tak sepenuhnya puas dengan artikel yang saya baca, tapi setidaknya mampu menjawab pertanyaan saya tentang jamaah yang di dirikan didirikan di negara suku hindia itu.


Ada suatu yang aneh saat saya browsing, seketika saya ter-forwarding ke URL, saya dapati URL itu menganggap apa yang mereka sebut sebagai jamaah tabligh adalah sesat, bid’ah lalu saya baca, kemudian saya berfikir, dimana letak kesalahan jamaah tabligh? Dan kenapa di situs itu cenderung inklusif, dan setiap apa yang tulis musti di anggap sebagai kalam sakral yang musti di terima. Hampir saya tidak percaya dan terkesan lucu saja membaca artikel di situ, hal inilah yang membuat saya ingin mengulas siapakah salafi?


Secara bahasa kalimat salaf berasal dari fi’il madli salafa yang bermakna zaman dahulu, alias periode waktu yang lebih dulu dari pada kita, namun makna ini mengalami pergeseran makna ketika kita berbicara tentang zaman atau kondisi sebaik-baiknya zaman, yang pernah di nash Rasulullah sebagai mercusuar bendera Islam


Benar memang Salaf atau salafi adalah sebuah periode terbaik yang pernah dimiliki oleh islam, karena hal ini telah di nash oleh Nabi sendiri, “sebaik-baiknya manusia adalah setelahku (Nabi) dan golongan selanjutnya, kemudian selanjutnya lagi” lantas apa yang di maksud dengan salaf? Lantas siapa mereka, apakah mereka hanya segelintir golongan tertentu pada zaman itu, atau mereka adalah kaum muslimin yang hidup pada waktu itu? Menurut jumhur ulama’ mereka adalah orang-orang tertentu yang berbeda tingkatannya masing-masing.


Kemudian timbul sebuah pertanyaan, kenapa mereka bisa di kategorikan sebagai marhalah zamaniyyah terbaik? Tentu karena mereka lebih paham dan tahu tentang ajaran islam yang sebenarnya, karena kedekatan mereka dengan zaman ketika Nabi di utus atau zaman Risalah, yang terdidik langsung oleh madrasah nubuwwah, yang mana membuat keberagamaan mereka sangat kuat.


Keistimewaan seperti itulah yang menjadi keharusan bagi kita untuk mengikutinya, seperti sabda Nabi, tentang terpecahnya Bani Israil menjadi 72 dan Umat islam terbagi 73 bagian, semuanya masuk neraka kecuali satu yaitu ma ana ‘alaihi wa ashhabi (golongan yang saya dan sahabat saya ada pada padanya) lalu bagaimana kita mengikuti mereka? Apa kita mengikuti dengan serta merta apa yang dilakukannya secara persis, mulai dari cara makan, minum, berpakaian, bermualah, dsb tentu jawabannya tidak, tetapi kita mengikuti apa yang kita sebut sebagai manhaj atau sebuah kaidah karena bagaimanapun mengikuti mereka bukan karena mereka sebagai orang dahulu, tapi karena kepandaian mereka dalam menafsiri agama islam yang masih hangat, langsung dari Nabi.


Jelas sekali salah ketika kalimat salaf perspektif al ‘shur tsalatsah (tiga periode setelah Nabi) di artikan sebagai golongan tertentu yang mempunyai kriteria khusus yang terkesan berbeda dengan umat muslim pada umumnya, sampai akhlak yang mereka miliki berbeda dengan umat islam kebanyakan, lantas kita bertanya, bagaimana kita mengikuti mereka para tiga golongan itu?


Mengikuti manhaj yang dilakukan oleh mereka, itulah jawabannya. dalam hal ini kita sebagai umat islam tentu sepakat dalam penerapannya, karena umat islam dari zaman Nabi sampai zaman kita ini semuanya mengikuti manhaj yang satu yaitu alqur’an dan alhadist yang telah di gariskan oleh para ulama hingga sampai zaman kita sekarang, lantas kenapa ada perbedaan antara yang salafi dengan yang non salafi (dalam kontek kini)?


Kaum muslimin semuanya berpegang pada dalil alqur’an dan al hadist, yang di ambil dengan menggunakan ilmu alat seperti nahwu, shorof, balaghoh, dan yang terutama yaitu ushul fiqih, bahkan usul fiqih itu sendiri mengalami perkembangan sesuai dengan zaman misalnya tentang konsep masholihul mursalah antara imam syafii dengan imam Malik.


Tidak sedikit pendapat salafi yang masuk dalam kategori ijtihadiyah, seperti tentang dzikir berjamaah, tentang tawassul, tentang mengangkat tangan saat berdoa, menyebut kalimat Allah saja saat berdzikir, tapi oleh mereka orang-orang yang berbeda di anggap sebagai bid’ah, atau bahkan sebagian lagi ada yang dianggap kafir. na’udzu billah min dzalik, madzhab seperti apa ini, dalam konteks ijtihadiyyah koq masih menganggap sebagai Tuhan yang berhak menvonis pendapat orang lain sebagai sesuatu yang pantas di anggap salah, bahkan Nabi sendiri menjamin pendapatnya orang mujtahid yang salah ahobahu ajrun.


Mungkin perbedaan yang sangat mencolok sekali ketika kita melihat penafsiran tentang ayat-ayat mutasyabihat, kaum salafi cenderung menafsirinya dengan harfiahnya saja tanpa berani menta’wil atau menafsirinya, saya katakan dalam hal ini juga masih dalam kontek ijtihadiyyah, karena bagaimanapun kalau kita kaitkan dengan zaman dahulu, zaman Nabi dan setelah-setelahnya itu, belum adanya futuhatul islam atau perluasan Negara islam dan masih sedikit musuh-musuh islam yang senantiasa menyerang islam baik itu dari sumber-sumbernya maupun dari individu, termasuk yang asyik menjadi obyek penyerangan yaitu sifat mutasyabihat ini, lantas apakah kita sebagai umat islam diam saja? Tentu tidak, kita pasti akan tetap memperjuangkan agama kita, saya katakan hal itu masih bisa di terima asal masih dalam koridor tanzihul ilah ‘amma la la yaliqu bih (menghilangkan sifat yang tidak layak bagi Allah)


Jadi kesimpulan yang dapat saya ambil adalah, selama kita masih dalam ranah atau konteks furu’iyyah dan ijtihadiyyah kita harus bisa bertenggang rasa satu antar yang lain, saling berpegang tangan dalam ranah ushul pokok yang telah di sepakati dan tentu tidak dengan serta merta memaksakan pendapat yang bersifat ijtihadiyyah, semuanya ada yang benar dan ada yang salah, selama mereka ada landasan yang di jadikan pijakan yang sesuai dengan Al qur’an dan Al hadist, dan pokok yang telah disepakati, semua salafi, bukan akulah salafi. Wallahu a’lam

Dari Kuliah Menuju Ibadah

Sebuah ilustrasi dari Hadist Nabi mengatakan keutamaan ahli ilmu dan ahli ibadah seperti keutamaan bulan atas bintang-bintang, hadits ini tentunya memiliki berbagai macam interpretasi yang bermacam tergantung dari mana kita mengambil dan menguraikannya. Karena setiap teks-teks keagamaan pasti di pengaruhi oleh kondisi sosio kultural yang mempengaruhinya, oleh karena itu ketika kita berbicara tentang teks pasti kita akan berbicara tentang asbabun nuzul dan asbabul wurud al hadist.



Secara eksplisit hadist ini menggambarkan keutamaan orang berilmu dari pada orang yang ahli ibadah, bagaikan terangnya rembulan dari pada bintang-bintang yang bercahaya di atas langit, hal ini memang bisa di terima akal sehat tanpa butuh pemikiran yang lama, bagaimana pun orang yang berilmu itu lebih di paham syarat dan rukun ibadah dari pada orang yang beribadah hanya asal saja, tanpa mengetahui ilmu ibadah itu sendiri.


Dalam hadist ini merupakan anjuran dari agama kita untuk selalu mengasah keintelektualan kita, dan menjauhi dari pada taqlid atau membebek pendapat orang lain tanpa di mengetahui sumber-sumbernya. Begitula, Jauh-jauh hari islam telah menganjurkan kepada pemeluknya untuk mendalami pengetahuan apapun itu bentuknya, seperti halnya dalam hadist Man salaka thoriqon, yaltamisu fihi ilmman sahhala Allahu lahu thoriqon ilal jannah. Artinya barang siapa berjalan dengan tujuan untuk mencari ilmu maka Allah akan memudahkannya jalan menuju surga, Sengaja Nabi menggunakan lafadz nakiroh dalam kata ‘ilm yang kalau dalam ilmu ushul fiqhnya berfaidah litta’mim atu menunjukkan generalitas, dalam artian seluruh disiplin ilmu bukan hanya ilmu keagamaan saja, karena Nabi sudah mengetahui kalau ilmu itu sifatnya berkembang dan akan terus berkembang seiring perkembangan hidup manusia.


Kembali kepada dimensi ruang dan waktu, ruang dalam artian dunia saat ini, kondisi zaman saat ini tentu tidak sama seperti ketika Nabi mensabdakan sabda-sabdanya pada kurun ratusan tahun yang lalu, dewasa ini kondisi social jauh lebih kompleks dan masih sangat jauh dari harapan ketika mensoal kedewasaan intelektual dan sosial, sementara ilmu yang ada di zaman Nabi juga masih sedikit, belum ada ilmu teknologi, ilmu geologi, biologi, ilmu antariksa, psikologi, antropologi dan lain sebagainya.


Pada zaman Nabi pun tidak kita dapati sebuah universitas yang mengajarkan berbagai macam disiplin ilmu pengetahuan berbagai macam kajian berbagai macam diskusi dan yang lainnya, yang kita dapati pada zaman nabi adalah para sahabat dididik langsung oleh Nabi (atau sering di sebut sebagai madrasah an-nubuwwah) sedangkan bagi mereka yang masih kebingungan dengan apa yang mereka pikirkan tentang islam mereka bertanya langsung kepada Nabi atau kepada istri-istri Nabi jika masalah itu berkaitan dengan masalah kewanitaan.


Oleh karena itu disini saya ingin mengatakan kepada kawan-kawan semua, tidak ada yang rugi jika kita mempelajari satu disiplin ilmu dengan detail dan kita menjadi ahlinya, yang mana ketika kita niatkan hal itu demi kelancaran hidup ini dan dalam rangka memuliakan islam, kemudian demi eksistensi dan kualitas keilmuan itu kita lakukan berbagai macam usaha lewat berbagai macam penelitian, kajian, diskusi, dan berbagai macam tugas kuliah yang semakin hari semakin menumpuk.


Satu hal yang tidak terfikirkan oleh para mahasiswa adalah ketika dirinya berkecimpung dalam kajian, ketika ia menjalankan tugas tugas kuliah lainnya, atau bahkan ketika ia menulis skripsi, atau bahkan ketika ia menceburkan dirinya dalam fakultas umum, kebanyakan dari mereka menganggap apa yang di lakukannya itu adalah untuk keduniaannya saja dan tiada artinya jika di hadapkan kehidupan akhirat, pada hal lebih dari itu apa sebenarnya jika kita melihat dari hadist di atas, kita dapati Nabi mengkategorikan semua orang yang melakukan perbuatan dalam rangka menuntut ilmu semua akan di mudahkan oleh Allah jalan menuju surge.


Dari paparan Saya diatas dapat di simpulkan bahwa apapun kegiatan yang kita lakukan saat ini (dalam rangka salaka thoriqon ila ‘ilmi) adalah bentuk ibadah yang mana Allah pasti akan membalasnya dengan pahala yang setimpal.


Kita tentu tidak dapat mengetahui seberapa besar pahala yang di berikan Allah kepada kita, hemat saya, melakukan sesuatu yang berhubungan dengan kegiatan belajar mengajar adalah sebuah bentuk konstribusi kita kepada umat islam saat ini, karena kita adalah armada masa depan yang akan membawa perahu islam ini menuju pada komunitas yang di harapkan oleh islam itu sendiri, maka dari itu kalau umat ini sedang membutuhkan seorang fisikiawan untuk mendeteksi pergerakan lempeng bumi yang akan menyebabkan terjadinya gempa, hal itu pun dapat di golongkan menjadi kategori konstribusi kita pada agama ini, dan upaya untuk menuju kapada tujuan itu juga termasuk ibadah, seperti kaidah ushuliyyah ma la yutimmul wajib illa bihi fahuwa wajib


Bahkan lebih dari itu, para ulama klasik dan modern pun banyak yang mengatakan bahwa apa yang menjadi kebutuhan kita untuk melangsungkan hidup ini berkecimpung di dalamnya hukumnya adalah fardlu kifayah. Man salaka thoriqon, yaltamisu fihi ilmman sahhala Allahu lahu thoriqon ilal jannah. Sengaja Nabi menggunakan lafadz nakiroh yang kalau dalam ilmu ushul fiqhnya berfaidah lita’mim atau menunjukkan keumuman, tapi hal di atas bukan berarti kita seenaknya sendiri tanpa memperhatikan sikap sebagai muslim yang lain, itulah kenapa alqur’an mensyaratkan innama yakhsya Allaha min ‘ibadihi al ulama’u artinya takutlah hamba-hamba Allah itu kepada-Nya karena ilmu yang telah di milikinya, jadi syarat utama supaya tholabul ‘ilmi kita bermakna di sisi-Nya adalah meniatkan diri karena-Nya, dan dengan ilmu yang dimilikinya itu semakin menambah rasa ketakwaan pada-Nya. Wallahu a’lam bisshowab

Ramdhan, bulan pengkaderan moral

Sebelum di bentuknya tahun hijriyyah, konon salah satu metode yang di pakai umat Islam Arab dalam menentukan nama bulan dan tahun adalah dengan menjadikan setiap peristiwa sebagai nama dari kejadian itu sendiri, seperti kelahiran Nabi Muhammad, para suku Arab menjadikan tahun Fiil (Gajah) sebagai tahun kelahiran beliau. Begitu pula dengan Ramadhan, berasal dari kata Ramadla Al har berarti panas yang terik, dinamakan Ramadhan karena kewajiban puasa kerap kali bertepatan dengan panas yang sangat terik.



Menurut pandangan umat Islam sendiri ibadah puasa mempunyai posisi yang sangat penting, karena ibadah ini mempunyai pengaruh dalam kaitannya mendidik jasmani dan rohani serta mempererat tali hubungan dengan Tuhannya. Arti penting ini terlihat dari sabda Nabi Muhammad dalam salah satu hadis shahih-nya bahwa ”setiap bani adam dia sendiri yang melipat gandakan pahalanya dari sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat, kecuali puasa, karena puasa adalah milik-Ku dan Akulah yang memberikan pahala”


Hal ini karena puasa secara kasat mata sulit untuk dapat di barengi dengan rasa riya’ sebagaimana ibadah yang lain, karena betapa tersembuyinya ibadah puasa itu sendiri, yang mana orang lain tidak akan tahu kalau kita sedang berpuasa atau tidak di siang hari bulan Ramadhan, puasa itu yang tahu hanyalah Allah, sampai Allah pun mendeklarasikan bahwa hanya Dirinyalah yang akan menilai puasa orang tersebut.


Dalam perspektif Islam, ibadah ukhrowi itu harus di barengi dengan sebuah tindakan dalam kaitannya memakmurkan bumi ini, karena inilah inti dari tugas manusia di ciptakan di muka bumi ini. Islam ketika mewajibkan hambanya beribadah untuk akhiratnya, pasti mewajibkan sebuah efek kebajikan yang di manifestasikan dalam wujud tindakan riil di dunianya, dari sinilah siapa saja yang hanya bermalasan tanpa melakukan tindakan apapun dengan alasan dia sedang berpuasa, ia belum bisa di katakan gugur dari melakukan ibadah puasa secara benar.


Puasa dapat kita analogikan sebagai sebuah obat yang di wajibkan oleh Allah kepada setiap pribadi muslim dalam kaitannya membentuk insan yang benar-benar bermoral, karena seperti kita ketahui ketika Allah mewajibkan berpuasa, Dia juga tidak membolehkan kepada manusia untuk menggunjing saudara muslim yang lainnya, menyakiti hati saudaranya, berbohong pada perkataannya dan akhlak buruk lain sebagainya, karena puasa bukanlah sebatas menjadikan perut lapar dan haus semata, melainkan melaparkan perut dari mulut yang kotor, dari mata yang suka bermaksiat, dari telinga, hati, tangan dan juga kaki yang melakukan perbuatan buruk yang tidak di ridhoi oleh Islam.


Islam memandang puasa seseorang itu sia-sia, jika dalam kesehariannya orang itu senantiasa tidak menantaati adab-adab orang berpuasa, bahkan puasa itu tidak di terima menurut pandangan syari’at, jika ia sengaja meninggalkan syarat sah puasa itu sendiri, puasa seperti inilah yang hanya berkutat pada lapar dan haus, sementara menurut pandangan syari’at puasanya mendapatkan nilai nol, kondisi seperti inilah yang pernah di singgung Rasulullah SAW bahwa “banyak dari orang yang berpuasa yang tiada ia dapati dari puasanya itu kecuali hanya rasa lapar dan haus”


Dalam bulan puasa inilah kita sebagai umat muslim senantiasa di tuntut untuk menjadi insan yang benar-benar ideal, untuk itu kita tidak boleh melakukan bersetubuh di siang hari, tidak melakukan sesuatu yang fasiq, tidak berbohong, tidak menggunjing dan tidak bermalas-masalasan, namun sayangnya realita yang di hadapi umat Islam sekarang berbeda jauh dengan apa yang ada pada zaman kenabian dahulu, banyak dari umat Islam menyeleweng dari maqoshid (tujuan) dari di syariatkan puasa itu sendiri, banyak yang hanya mengikuti trend-trend yang di miliki masing-masing, sehingga puasa yang seharusnya bermakna pengkaderan moral umat Islam berubah menjadi pengkaderan trend itu sendiri.


Saat ini kewajiban yang musti kita benahi bersama adalah mengembalikan semangat Ramadhan dalam nafas keseharian kita dengan berupaya melakukan segala apa yang di perintahkan oleh Islam serta menghindari apa yang telah di larang oleh syariat Islam itu sendiri, dengan demikian di harapkan timbul perencanaan yang matang dalam menghadapi hari-hari bulan Ramadhan ke depan.


Begitulah Ramadhan, ketika kita mampu menghidupkan Ramadhan sesuai dengan semangat yang di atur oleh Islam, tersebarlah benih-benih kedermawanan, hilanglah rasa saling membenci satu sama lain, timbulnya semangat saling mencintai sesama saudara muslim, serta akan timbulnya kedamaian sosial yang sejalan dengan semangat Islam sebagai Rohmatan lil ‘alamin, pembawa kasih sayang kepada seluruh alam semesta Wallahu A’lam

Sedikit Kata Tentang Saya

Bahak, Blogger dan pecinta Islamic Economies. Asli Warga Rembang, Jawa tengah, tinggal di Cairo, Egypt (walaupun sampai saat post ini dibuat, yang bersangkutan belum mempunyai KTP Mesir). pendiem, ceplas-ceplos, tidak terlalu bertanggung jawab, dan sangat menyukai gadis berjilbab besar (kalo tak ada yang gadis, janda juga ndak papa)

 
/* Hargailah Si Pembuat Template Dengan Tidak Menghilangkan Credit Di Bawah Ini Bikin Template Susah Bro..!!! */