Showing posts with label Catatan. Show all posts
Showing posts with label Catatan. Show all posts

Agama Adalah Fitrah Manusia

Seminggu rasanya begitu cepat menjalani study tours ke luxor dan aswan, karena memang kami begitu asyik menikmati keindahan object wisata di sana, selain karena guider nya yang super enak, juga karena service yang di berikan kepada kami sangan memuaskan, di sana kami jumpai beberapa tempat yang sungguh menakjubkan, luxor adalah ibu kota mesir kuno, sebelum akhirnya di tetapkan di kairo, luxor dan aswan ini terletak di bagian selatan negara mesir berbatasan langsung dengan negara Sudan, suku yang ada di sana juga suku Afrika blesteran Arab, kulit hitam, namun berbahasa arab. Adapun object wisata yang ada disana cukup beragam, akan tetapi yang sangat menonjol di sana adalah bekas-bekas peninggalan raja-raja Mesir kuno, dan juga candi-candi.


Sesuatu yang terbesit di fikiran saya ketika melihat beberapa candi di sana adalah betapa mereka memang mempunyai jiwa arsitek yang cukup tinggi, hal ini terbukti dalam pembuatan candi yang begitu megah dengan batu yang hanya di pahat dengan alat seadanya, dan juga artefak artefak yang tertulis di dinding dinging tembol candi, begitu jelinya mereka memahat pahatan. Salah satu yang menjadi ketertarikan saya adalah kesimpulan bahwa betapa beragama itu adalah sebuah fitrah dan naluri alamiah, hal ini dapat kita dapati, setiap ma’bad atau candi yang di buat di situ ada sebuah simbol dewa-dewa yang mereka anggap sebagai Tuhan, misalnya saja di kom ombo temple, di situ ada tuhan yang di sebut Sobek, sobek adalah nama Tuhan yang bertubuh manusia berkepala buaya, konon, pada zaman ini, buaya adalah salah satu hewan yang sangat di takuti oleh penduduk sekitar karena acap kali mereka berlayar ke sungai nil, sering terjadi kejadian, buaya yang memangsa manusia, dengan sebab ini, mereka menjadikan Sobek sebagai Tuhan, tentu dengan harapan dengan menjadikan God  Crocodile (Sobel) sebagai Tuhan mereka akan selamat dari bahaya yang menimpa mereka, selain Sobek kita juga mendapati candi-candi yang lain, kebanyakan motif mereka mendirikan candi adalah untuk mempersembahkannya untuk Tuhan, misalkan saja Edfu, candi yang berdiri pada zaman kekuasaan Yunani-Romawi ini, di dedikasikan untuk Tuhan yang bernama Horus, begitu juga dengan candi-candi yang lain, seperti karnak, luxor dsb.


Dewa dewa yang mereka buat-buat ini mereka gunakan sebagai tempat untuk berteduh, tempat mengadu di saat sedih, bahagia, terluka, atau dengan kata lain mereka ingin ada sebuah tempat pengaduan, tempat mengeluh, tempat curhat ketika tiada lagi pengaduan pada manusia. Secara tidak langsung dapat kita katakana bertuhan adalah sebuah fitrah manusia, itu yang dapat saya simpulkan, itulah mengapa kita yang di dunia ini membutuhkan agama, karena hanya agama yang dapat menjawab unsur unsur yang di butuhkan oleh fitrah manusia, bahkan lebih dari itu, dalam tubuh agama ada semacam fondasi yang musti di tetapi untuk bisa di sebut sebagai orang yang agamis, di antaranya unsur keilahian dan unsur akhlak, dua hal ini lah membuat pondasi bangunan agama tidak bertentangan dengan tabiat naluriah setiap diri manusia.


Sejak Nabi Adam di turunkan ke bumi ini, para Nabi mendasarkan ajarannya pada dua hal di atas, tentunya berbekal pada akal manusia, agama menyandarkan pada tabiat manusia sehingga dakwah-dakwah yang di lakukan oleh para Nabi tidak di tentang oleh mereka yang melihat agama dari sisi hati nuraninya, dengan sebab inilah agama adalah fondasi yang sangat kuat, meski banyak permasalahan terjadi pada penentang dan pemeluknya, itu tidak menafikan bahwa agama adalah Fitrah


Sudah berjuta-juta abad bumi ini ada, ribuan Rasul dan Nabi, turun di bumi untuk menyampaikan risalah samawy,  dan risalah risalah itu masih tetap tegak di muka bumi ini, hal ini menguatkan bahwa inti dari ajaran agama itu sendiri adalah sebuah fitrah manusia, selama manusia masih ada di muka bumi ini, selama manusia itu masih mempunyai Fitrah, cahaya fitrah ini tak akan pernah padam, bahkan ia akan bersinar dan tetap menyala sampai pada titik dimana manusia dan fitrah itu sendiri tiada.


Perlu di garis bawahi bahwa unsure ilahy dan akhlak manusia ini bukanlah sesuatu yang di buat-buat, mungkin saja seseorang dengan usahanya dapat menghilangkan dua unsur tersebut, akan tetapi ia atau dua unsure di atas itu adalah sesuatu yang ghorizy (bawaan), sesuatu yang memang dari tabiat alamiah manusia. Justru kalau kita melihat sejarah-sejarah manusia, mulai jaman fir’aun, sampai pada kerajaan romawi dan Yunani yang terdapat pada peninggalan mesir kuno, menunjukkan bahwa mereka juga dua hal di atas adalah panggilan hati nurani yang muncul dari hati manusia, ia akan senantiasa ada selama manusia ada di muka bumi ini, dan akan tetap ada sampai hari berakhirnya bumi datang.


Mungkin bagi sebagian orang bisa saja ia menghilangkan naluri alamiah ini, akan tetapi usaha-usaha yang di lakukan oleh mereka itu tidak akan mampu menghilangkan secara keseluruhan, Kita ambil sample, sebuah rasa ketertarikan terhadap lawan jenis, konon di Eropa dan India, sebagian orang dengan sengaja tidak menikah, yang tentunya dengan beberapa alasan yang mereka jadikan pegangan, entah itu karena motif agama, atau karena mereka ingin meninggalkan dunia, apapun alasannya itu, mereka tidak dapat mengingkari bahwa memang pada diri setiap individu ada fitrah yang di situ tidak dapat di hilangkan.


Itulah mengapa agama Islam di katakan sebagai agama yang fitrah, karena ajaran islam tidak bertentangan dengan fitrah manusia, bahkan lebih dari itu, islam memandang kata “Fitrah” lebih luas, ia tidak hanya memamdang manusia dari sisi “Insaniyyah” atau kemanusiaannya, tetapi juga dari sisi “Khilqoh” atau penciptaannya, apakah ia laki-laki atau ia perempuan. Itulah mengapa islam membedakan antara laki-laki dan perempuan dalam hak dan kewajiban. Islam tidak membolehkan wanita untuk menjadi seorang presiden, islam membedakan bagian warisan, Islam mewajibkan nafakah keluarga hanya dari lelaku. Itu semua semata-mata bukan karena islam memandang wanita dengan pandangan yang merendahkan diri wanita.


Tugas para Nabi dan Rasul kalau bias di katakan mereka itu hanya membangunkan sisi fitroh manusia yang telah tertidur dan yang telah mati, dan membangkitkan sisi nurani manusia. Perlu kita renungkan salah satu ayat AlQur’an Surat Arrum : 30

فأقم وجهك للدين حنيفا فطرة الله التي فطر الناس عليها


“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah.(Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”


Betapa buruknya perilaku seseorang, betapa bejatnya akhlak seseorang, mereka tidak akan mampu mengingkari tentang fitrahnya, bahwa ia membutuhkan Tuhan, ia membutuhkan tempat pengaduan di saat tiada satupun yang mau mendengarkan pengaduannya, sebagaimana ia membutuhkan makan dan minum.


Aswan, 03 – 02 - 2013

Katakan Kita Salafi, Bukan Aku Salafi

Sejenak browsing di dunia maya, mencari-cari di google.co.id artikel tentang jamaah tabligh, akhirnya ketemu juga, meski tak sepenuhnya puas dengan artikel yang saya baca, tapi setidaknya mampu menjawab pertanyaan saya tentang jamaah yang di dirikan didirikan di negara suku hindia itu.


Ada suatu yang aneh saat saya browsing, seketika saya ter-forwarding ke URL, saya dapati URL itu menganggap apa yang mereka sebut sebagai jamaah tabligh adalah sesat, bid’ah lalu saya baca, kemudian saya berfikir, dimana letak kesalahan jamaah tabligh? Dan kenapa di situs itu cenderung inklusif, dan setiap apa yang tulis musti di anggap sebagai kalam sakral yang musti di terima. Hampir saya tidak percaya dan terkesan lucu saja membaca artikel di situ, hal inilah yang membuat saya ingin mengulas siapakah salafi?


Secara bahasa kalimat salaf berasal dari fi’il madli salafa yang bermakna zaman dahulu, alias periode waktu yang lebih dulu dari pada kita, namun makna ini mengalami pergeseran makna ketika kita berbicara tentang zaman atau kondisi sebaik-baiknya zaman, yang pernah di nash Rasulullah sebagai mercusuar bendera Islam


Benar memang Salaf atau salafi adalah sebuah periode terbaik yang pernah dimiliki oleh islam, karena hal ini telah di nash oleh Nabi sendiri, “sebaik-baiknya manusia adalah setelahku (Nabi) dan golongan selanjutnya, kemudian selanjutnya lagi” lantas apa yang di maksud dengan salaf? Lantas siapa mereka, apakah mereka hanya segelintir golongan tertentu pada zaman itu, atau mereka adalah kaum muslimin yang hidup pada waktu itu? Menurut jumhur ulama’ mereka adalah orang-orang tertentu yang berbeda tingkatannya masing-masing.


Kemudian timbul sebuah pertanyaan, kenapa mereka bisa di kategorikan sebagai marhalah zamaniyyah terbaik? Tentu karena mereka lebih paham dan tahu tentang ajaran islam yang sebenarnya, karena kedekatan mereka dengan zaman ketika Nabi di utus atau zaman Risalah, yang terdidik langsung oleh madrasah nubuwwah, yang mana membuat keberagamaan mereka sangat kuat.


Keistimewaan seperti itulah yang menjadi keharusan bagi kita untuk mengikutinya, seperti sabda Nabi, tentang terpecahnya Bani Israil menjadi 72 dan Umat islam terbagi 73 bagian, semuanya masuk neraka kecuali satu yaitu ma ana ‘alaihi wa ashhabi (golongan yang saya dan sahabat saya ada pada padanya) lalu bagaimana kita mengikuti mereka? Apa kita mengikuti dengan serta merta apa yang dilakukannya secara persis, mulai dari cara makan, minum, berpakaian, bermualah, dsb tentu jawabannya tidak, tetapi kita mengikuti apa yang kita sebut sebagai manhaj atau sebuah kaidah karena bagaimanapun mengikuti mereka bukan karena mereka sebagai orang dahulu, tapi karena kepandaian mereka dalam menafsiri agama islam yang masih hangat, langsung dari Nabi.


Jelas sekali salah ketika kalimat salaf perspektif al ‘shur tsalatsah (tiga periode setelah Nabi) di artikan sebagai golongan tertentu yang mempunyai kriteria khusus yang terkesan berbeda dengan umat muslim pada umumnya, sampai akhlak yang mereka miliki berbeda dengan umat islam kebanyakan, lantas kita bertanya, bagaimana kita mengikuti mereka para tiga golongan itu?


Mengikuti manhaj yang dilakukan oleh mereka, itulah jawabannya. dalam hal ini kita sebagai umat islam tentu sepakat dalam penerapannya, karena umat islam dari zaman Nabi sampai zaman kita ini semuanya mengikuti manhaj yang satu yaitu alqur’an dan alhadist yang telah di gariskan oleh para ulama hingga sampai zaman kita sekarang, lantas kenapa ada perbedaan antara yang salafi dengan yang non salafi (dalam kontek kini)?


Kaum muslimin semuanya berpegang pada dalil alqur’an dan al hadist, yang di ambil dengan menggunakan ilmu alat seperti nahwu, shorof, balaghoh, dan yang terutama yaitu ushul fiqih, bahkan usul fiqih itu sendiri mengalami perkembangan sesuai dengan zaman misalnya tentang konsep masholihul mursalah antara imam syafii dengan imam Malik.


Tidak sedikit pendapat salafi yang masuk dalam kategori ijtihadiyah, seperti tentang dzikir berjamaah, tentang tawassul, tentang mengangkat tangan saat berdoa, menyebut kalimat Allah saja saat berdzikir, tapi oleh mereka orang-orang yang berbeda di anggap sebagai bid’ah, atau bahkan sebagian lagi ada yang dianggap kafir. na’udzu billah min dzalik, madzhab seperti apa ini, dalam konteks ijtihadiyyah koq masih menganggap sebagai Tuhan yang berhak menvonis pendapat orang lain sebagai sesuatu yang pantas di anggap salah, bahkan Nabi sendiri menjamin pendapatnya orang mujtahid yang salah ahobahu ajrun.


Mungkin perbedaan yang sangat mencolok sekali ketika kita melihat penafsiran tentang ayat-ayat mutasyabihat, kaum salafi cenderung menafsirinya dengan harfiahnya saja tanpa berani menta’wil atau menafsirinya, saya katakan dalam hal ini juga masih dalam kontek ijtihadiyyah, karena bagaimanapun kalau kita kaitkan dengan zaman dahulu, zaman Nabi dan setelah-setelahnya itu, belum adanya futuhatul islam atau perluasan Negara islam dan masih sedikit musuh-musuh islam yang senantiasa menyerang islam baik itu dari sumber-sumbernya maupun dari individu, termasuk yang asyik menjadi obyek penyerangan yaitu sifat mutasyabihat ini, lantas apakah kita sebagai umat islam diam saja? Tentu tidak, kita pasti akan tetap memperjuangkan agama kita, saya katakan hal itu masih bisa di terima asal masih dalam koridor tanzihul ilah ‘amma la la yaliqu bih (menghilangkan sifat yang tidak layak bagi Allah)


Jadi kesimpulan yang dapat saya ambil adalah, selama kita masih dalam ranah atau konteks furu’iyyah dan ijtihadiyyah kita harus bisa bertenggang rasa satu antar yang lain, saling berpegang tangan dalam ranah ushul pokok yang telah di sepakati dan tentu tidak dengan serta merta memaksakan pendapat yang bersifat ijtihadiyyah, semuanya ada yang benar dan ada yang salah, selama mereka ada landasan yang di jadikan pijakan yang sesuai dengan Al qur’an dan Al hadist, dan pokok yang telah disepakati, semua salafi, bukan akulah salafi. Wallahu a’lam

Dari Kuliah Menuju Ibadah

Sebuah ilustrasi dari Hadist Nabi mengatakan keutamaan ahli ilmu dan ahli ibadah seperti keutamaan bulan atas bintang-bintang, hadits ini tentunya memiliki berbagai macam interpretasi yang bermacam tergantung dari mana kita mengambil dan menguraikannya. Karena setiap teks-teks keagamaan pasti di pengaruhi oleh kondisi sosio kultural yang mempengaruhinya, oleh karena itu ketika kita berbicara tentang teks pasti kita akan berbicara tentang asbabun nuzul dan asbabul wurud al hadist.



Secara eksplisit hadist ini menggambarkan keutamaan orang berilmu dari pada orang yang ahli ibadah, bagaikan terangnya rembulan dari pada bintang-bintang yang bercahaya di atas langit, hal ini memang bisa di terima akal sehat tanpa butuh pemikiran yang lama, bagaimana pun orang yang berilmu itu lebih di paham syarat dan rukun ibadah dari pada orang yang beribadah hanya asal saja, tanpa mengetahui ilmu ibadah itu sendiri.


Dalam hadist ini merupakan anjuran dari agama kita untuk selalu mengasah keintelektualan kita, dan menjauhi dari pada taqlid atau membebek pendapat orang lain tanpa di mengetahui sumber-sumbernya. Begitula, Jauh-jauh hari islam telah menganjurkan kepada pemeluknya untuk mendalami pengetahuan apapun itu bentuknya, seperti halnya dalam hadist Man salaka thoriqon, yaltamisu fihi ilmman sahhala Allahu lahu thoriqon ilal jannah. Artinya barang siapa berjalan dengan tujuan untuk mencari ilmu maka Allah akan memudahkannya jalan menuju surga, Sengaja Nabi menggunakan lafadz nakiroh dalam kata ‘ilm yang kalau dalam ilmu ushul fiqhnya berfaidah litta’mim atu menunjukkan generalitas, dalam artian seluruh disiplin ilmu bukan hanya ilmu keagamaan saja, karena Nabi sudah mengetahui kalau ilmu itu sifatnya berkembang dan akan terus berkembang seiring perkembangan hidup manusia.


Kembali kepada dimensi ruang dan waktu, ruang dalam artian dunia saat ini, kondisi zaman saat ini tentu tidak sama seperti ketika Nabi mensabdakan sabda-sabdanya pada kurun ratusan tahun yang lalu, dewasa ini kondisi social jauh lebih kompleks dan masih sangat jauh dari harapan ketika mensoal kedewasaan intelektual dan sosial, sementara ilmu yang ada di zaman Nabi juga masih sedikit, belum ada ilmu teknologi, ilmu geologi, biologi, ilmu antariksa, psikologi, antropologi dan lain sebagainya.


Pada zaman Nabi pun tidak kita dapati sebuah universitas yang mengajarkan berbagai macam disiplin ilmu pengetahuan berbagai macam kajian berbagai macam diskusi dan yang lainnya, yang kita dapati pada zaman nabi adalah para sahabat dididik langsung oleh Nabi (atau sering di sebut sebagai madrasah an-nubuwwah) sedangkan bagi mereka yang masih kebingungan dengan apa yang mereka pikirkan tentang islam mereka bertanya langsung kepada Nabi atau kepada istri-istri Nabi jika masalah itu berkaitan dengan masalah kewanitaan.


Oleh karena itu disini saya ingin mengatakan kepada kawan-kawan semua, tidak ada yang rugi jika kita mempelajari satu disiplin ilmu dengan detail dan kita menjadi ahlinya, yang mana ketika kita niatkan hal itu demi kelancaran hidup ini dan dalam rangka memuliakan islam, kemudian demi eksistensi dan kualitas keilmuan itu kita lakukan berbagai macam usaha lewat berbagai macam penelitian, kajian, diskusi, dan berbagai macam tugas kuliah yang semakin hari semakin menumpuk.


Satu hal yang tidak terfikirkan oleh para mahasiswa adalah ketika dirinya berkecimpung dalam kajian, ketika ia menjalankan tugas tugas kuliah lainnya, atau bahkan ketika ia menulis skripsi, atau bahkan ketika ia menceburkan dirinya dalam fakultas umum, kebanyakan dari mereka menganggap apa yang di lakukannya itu adalah untuk keduniaannya saja dan tiada artinya jika di hadapkan kehidupan akhirat, pada hal lebih dari itu apa sebenarnya jika kita melihat dari hadist di atas, kita dapati Nabi mengkategorikan semua orang yang melakukan perbuatan dalam rangka menuntut ilmu semua akan di mudahkan oleh Allah jalan menuju surge.


Dari paparan Saya diatas dapat di simpulkan bahwa apapun kegiatan yang kita lakukan saat ini (dalam rangka salaka thoriqon ila ‘ilmi) adalah bentuk ibadah yang mana Allah pasti akan membalasnya dengan pahala yang setimpal.


Kita tentu tidak dapat mengetahui seberapa besar pahala yang di berikan Allah kepada kita, hemat saya, melakukan sesuatu yang berhubungan dengan kegiatan belajar mengajar adalah sebuah bentuk konstribusi kita kepada umat islam saat ini, karena kita adalah armada masa depan yang akan membawa perahu islam ini menuju pada komunitas yang di harapkan oleh islam itu sendiri, maka dari itu kalau umat ini sedang membutuhkan seorang fisikiawan untuk mendeteksi pergerakan lempeng bumi yang akan menyebabkan terjadinya gempa, hal itu pun dapat di golongkan menjadi kategori konstribusi kita pada agama ini, dan upaya untuk menuju kapada tujuan itu juga termasuk ibadah, seperti kaidah ushuliyyah ma la yutimmul wajib illa bihi fahuwa wajib


Bahkan lebih dari itu, para ulama klasik dan modern pun banyak yang mengatakan bahwa apa yang menjadi kebutuhan kita untuk melangsungkan hidup ini berkecimpung di dalamnya hukumnya adalah fardlu kifayah. Man salaka thoriqon, yaltamisu fihi ilmman sahhala Allahu lahu thoriqon ilal jannah. Sengaja Nabi menggunakan lafadz nakiroh yang kalau dalam ilmu ushul fiqhnya berfaidah lita’mim atau menunjukkan keumuman, tapi hal di atas bukan berarti kita seenaknya sendiri tanpa memperhatikan sikap sebagai muslim yang lain, itulah kenapa alqur’an mensyaratkan innama yakhsya Allaha min ‘ibadihi al ulama’u artinya takutlah hamba-hamba Allah itu kepada-Nya karena ilmu yang telah di milikinya, jadi syarat utama supaya tholabul ‘ilmi kita bermakna di sisi-Nya adalah meniatkan diri karena-Nya, dan dengan ilmu yang dimilikinya itu semakin menambah rasa ketakwaan pada-Nya. Wallahu a’lam bisshowab

Ramdhan, bulan pengkaderan moral

Sebelum di bentuknya tahun hijriyyah, konon salah satu metode yang di pakai umat Islam Arab dalam menentukan nama bulan dan tahun adalah dengan menjadikan setiap peristiwa sebagai nama dari kejadian itu sendiri, seperti kelahiran Nabi Muhammad, para suku Arab menjadikan tahun Fiil (Gajah) sebagai tahun kelahiran beliau. Begitu pula dengan Ramadhan, berasal dari kata Ramadla Al har berarti panas yang terik, dinamakan Ramadhan karena kewajiban puasa kerap kali bertepatan dengan panas yang sangat terik.



Menurut pandangan umat Islam sendiri ibadah puasa mempunyai posisi yang sangat penting, karena ibadah ini mempunyai pengaruh dalam kaitannya mendidik jasmani dan rohani serta mempererat tali hubungan dengan Tuhannya. Arti penting ini terlihat dari sabda Nabi Muhammad dalam salah satu hadis shahih-nya bahwa ”setiap bani adam dia sendiri yang melipat gandakan pahalanya dari sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat, kecuali puasa, karena puasa adalah milik-Ku dan Akulah yang memberikan pahala”


Hal ini karena puasa secara kasat mata sulit untuk dapat di barengi dengan rasa riya’ sebagaimana ibadah yang lain, karena betapa tersembuyinya ibadah puasa itu sendiri, yang mana orang lain tidak akan tahu kalau kita sedang berpuasa atau tidak di siang hari bulan Ramadhan, puasa itu yang tahu hanyalah Allah, sampai Allah pun mendeklarasikan bahwa hanya Dirinyalah yang akan menilai puasa orang tersebut.


Dalam perspektif Islam, ibadah ukhrowi itu harus di barengi dengan sebuah tindakan dalam kaitannya memakmurkan bumi ini, karena inilah inti dari tugas manusia di ciptakan di muka bumi ini. Islam ketika mewajibkan hambanya beribadah untuk akhiratnya, pasti mewajibkan sebuah efek kebajikan yang di manifestasikan dalam wujud tindakan riil di dunianya, dari sinilah siapa saja yang hanya bermalasan tanpa melakukan tindakan apapun dengan alasan dia sedang berpuasa, ia belum bisa di katakan gugur dari melakukan ibadah puasa secara benar.


Puasa dapat kita analogikan sebagai sebuah obat yang di wajibkan oleh Allah kepada setiap pribadi muslim dalam kaitannya membentuk insan yang benar-benar bermoral, karena seperti kita ketahui ketika Allah mewajibkan berpuasa, Dia juga tidak membolehkan kepada manusia untuk menggunjing saudara muslim yang lainnya, menyakiti hati saudaranya, berbohong pada perkataannya dan akhlak buruk lain sebagainya, karena puasa bukanlah sebatas menjadikan perut lapar dan haus semata, melainkan melaparkan perut dari mulut yang kotor, dari mata yang suka bermaksiat, dari telinga, hati, tangan dan juga kaki yang melakukan perbuatan buruk yang tidak di ridhoi oleh Islam.


Islam memandang puasa seseorang itu sia-sia, jika dalam kesehariannya orang itu senantiasa tidak menantaati adab-adab orang berpuasa, bahkan puasa itu tidak di terima menurut pandangan syari’at, jika ia sengaja meninggalkan syarat sah puasa itu sendiri, puasa seperti inilah yang hanya berkutat pada lapar dan haus, sementara menurut pandangan syari’at puasanya mendapatkan nilai nol, kondisi seperti inilah yang pernah di singgung Rasulullah SAW bahwa “banyak dari orang yang berpuasa yang tiada ia dapati dari puasanya itu kecuali hanya rasa lapar dan haus”


Dalam bulan puasa inilah kita sebagai umat muslim senantiasa di tuntut untuk menjadi insan yang benar-benar ideal, untuk itu kita tidak boleh melakukan bersetubuh di siang hari, tidak melakukan sesuatu yang fasiq, tidak berbohong, tidak menggunjing dan tidak bermalas-masalasan, namun sayangnya realita yang di hadapi umat Islam sekarang berbeda jauh dengan apa yang ada pada zaman kenabian dahulu, banyak dari umat Islam menyeleweng dari maqoshid (tujuan) dari di syariatkan puasa itu sendiri, banyak yang hanya mengikuti trend-trend yang di miliki masing-masing, sehingga puasa yang seharusnya bermakna pengkaderan moral umat Islam berubah menjadi pengkaderan trend itu sendiri.


Saat ini kewajiban yang musti kita benahi bersama adalah mengembalikan semangat Ramadhan dalam nafas keseharian kita dengan berupaya melakukan segala apa yang di perintahkan oleh Islam serta menghindari apa yang telah di larang oleh syariat Islam itu sendiri, dengan demikian di harapkan timbul perencanaan yang matang dalam menghadapi hari-hari bulan Ramadhan ke depan.


Begitulah Ramadhan, ketika kita mampu menghidupkan Ramadhan sesuai dengan semangat yang di atur oleh Islam, tersebarlah benih-benih kedermawanan, hilanglah rasa saling membenci satu sama lain, timbulnya semangat saling mencintai sesama saudara muslim, serta akan timbulnya kedamaian sosial yang sejalan dengan semangat Islam sebagai Rohmatan lil ‘alamin, pembawa kasih sayang kepada seluruh alam semesta Wallahu A’lam

2012, Kiamat Sudah dekat

Apa yang ada di fikiran anda, ketika anda percaya pada film produksi Sony Pictures yang berjudul 2012, sebuah film yang menggambarkan seolah-olah hari kiamat tiba dan hal itu pasti akan terjadi pada 21 desember 2012, bisa jadi kita akan merasa ketakutan setelah percaya bahwa memang hari itu dunia akan berakhir, mulanya penulis juga mempercayai dan membenarkan isu itu dari salah seorang kawan karena data-data empiris yang bisa di terima dengan akal sehat, lantas apakah kita cuma diam tanpa tahu dari mana isu itu berasal dan bagaimana tahun 2012 bisa di sebut sebagai tahun yang menakutkan? Berikut ulasan tentang kiamat 2012.

Berita tentang kiamat ini memang simpang siur, ada yang mengatakan kiamat ini terjadi akibat benturan bumi dengan benda luar angkasa yang bernama planet Nibiru, dan jauh sebelum itu terjadi Sebelumnya juga ada kurang lebih 10 buku yang mengulas tentang hari kiamat akan datang pada tahun 2012 di amazon.com dan beberapa film dokumenter lainnya. Salah satu yang mengulas tentang Hari Kiamat 2012 adalah karya Lawrence E. Joseph penulis berdarah Lebanon yang menjabat sebagai Ketua Dewan Direksi Aerospace Consulting Corporation di New Mexico yang berjudul Apocalypse “2012 : A Scientific Invertigation into Civilization’s End ”. Buku yang diterbitkan tahun 2007 dan juga telah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dengan judul “Hari Kiamat 20012 : Investigasi Akhir Zaman“ itu, memaparkan bahwa tahun 2012 itu akan terjadi bencana, Bencana itu antara lain: siklus aktivitas matahari yang memuncak di tahun 2012 yang menyebabkan panas yang luar biasa di bumi, terlebih atmosfer kita sudah mengalami penipisan dan bolong di beberapa bagian sehingga selain memanaskan bumi dengan radikal juga melelehkan es di kutub dan juga menimbulkan badai serta topan yang dahsyat.

Lawrence E.Joseph juga menakut-nakuti dengan data yang kontroversional seperti retaknya medan magnet yang melindungi bumi dari radiasi berbahaya dan rekahan itu akan terjadi akan di atas lautan antara Brazil dan Afrika Selatan yang terbentang sepanjang 160 ribu kilometer yang dikenal sebagai anomali Atlantik Selatan. Ulasan lainnya tentang Supervolcano Yellowstone gunung maha besar di Amerika Serikat dan di perkitakan meletus setiap 600 ribu – 700 ribu tahun, yang menurutnya hal itu akan terjadi tidak lama lagi.

Tidak Cuma Lawrence saja Para ahli geofisika Rusia berpendapat bahwa ketika bumi akan memasuki awan energi tersebut di tahun 2012 hingga 2020 dan akan menimbulkan bencana besar yang belum pernah ada sebelumnya. Fisikawan UC Berkeley menyatakan dinosaurus serta spesies lainnya telah punah akibat tumbukan asteroid raksasa 65 juta tahun silam. Menurut siklus yang diperhitungkan secara ilmiah, seharusnya hal itu sudah terjadi lagi di saat-saat sekarang.

Namun seperti yang di kutip Republika.co.id menurut Badan Luar Angkasa AS, NASA, teori bahwa kiamat akan terjadi pada 21 Desember 2012 itu sangat tidak berdasar. NASA dengan gencar melakukan kampanye kecil-kecilan untuk menangkal rumor yang sudah cukup lama beredar.

Rumor yang beredar melalui internet menyebutkan bahwa planet misterius ini ditemukan oleh Bangsa Sumeria. Pendapat yang kemudian didukung oleh serentetan ilmuwan palsu dan paranormal. Beberapa situs bahkan menuduh NASA berusaha menutup-nutupi keberadaan planet misterius yang mengancam bumi, namun pihak NASA menegaskan bahwa rumor yang beredar itu hanyalah bualan belaka. "Tidak ada dasar fakta yang jelas bahwa ada planet misterius yang mengancam bumi," demikian pernyataan NASA.

“Jika memang benar akan terjadi tubrukan, para astronom paling tidak bisa melihatnya sejak satu dasawarsa lalu. Dan jika memang ada planet yang bergerak mendekat ke bumi, hal itu bahkan bisa dilihat dengan mata telanjang. "Jelas hal semacam itu tidak sedang terjadi. NASA mengklaim para ilmuwan di seluruh dunia yang meneliti angkasa luar tidak melihat adanya ancaman yang besar yang akan terjadi pada bumi pada 2012. Planet bumi alias planet biru yang dihuni manusia ini telah bertahan selama lebih dari 4 miliar tahun.

Menariknya lagi, bukan hanya ramalan suku bangsa Maya saja tetapi juga suku Hopi, Mesir Kuno, dan beberapa suku kuno lainnya jika tahun 2012 merupakan akhir sekaligus awal zaman baru. Bagaikan kelahiran seorang anak manusia, maka kelahiran zaman baru ini akan dipenuhi dengan darah. Suku Maya merupakan salah satu suku kuno di dunia ini yang dikenal sebagai suku yang sangat detil memperhatikan dan menghitung bintang-bintang dan benda langit lainnya. Di dalam kitab kuno dari Cina, I Ching, juga menyatakan hal yang sama akan terjadi bencana besar di tahun 2012.

Seorang tokoh spiritual Yahudi dunia bernama Titzchak Qadduri jauh-jauh hari sudah menyerukan kaum Yahudi agar sesegera mungkin meninggalkan daratan Amerika Serikat karena menurut perhitungannya, sebuah komet atau asteroid raksasa tengah meluncur di alam semesta dan mengarah serta akan menumbuk menuju daratan Amerika.

Semua itu merupakan teori dan ramalan oleh para pakar di bidangnya masing-masing, yang masih belum pasti kebenarannya. Menurut Islam, kiamat adalah hal yang tidak bisa dihindarkan. Hanya saja, kita tidak akan pernah tahu kapan pastinya akan terjadi. Bisa dua jam lagi, bisa besok, atau entah kapan. Karena Umat Islam adalah umat akhir zaman, dan lebih baik kita jadikan saja isu ini sebagai wahana instropeksi dan untuk menyadarkan bahwa hidup di dunia ini tidak untuk selamanya.

Pentingnya Kata Najis

Salah satu keunikan agama Islam yang tidak di miliki agama lain adalah agama yang sangat menganjurkan kata “suci atau bersih” dalam segalah hal, bersih jasmani, bersih lingkungan, bersih rohani, bahkan karena sangat masyhurnya hal ini sampai salah satu ungkapan “kebersihan adalah sebagian dari iman” menjadi slogan umat islam dalam kehidupan sehari-hari.
Kebalikan kata suci atau bersih adalah “najis” atau kotor, dua kata yang serasi seperti kata baik dan buruk. Sebagiamana keduanya baik dan buruk, manusia juga ada yang suka menjauhi kotor, namun di lain sisi tidak suka dengan kebersihan, begitu pula sebaliknya, karena itulah syari’at datang dengan memberikan aturan yang lengkap dan batas-batasan yang masuk akal, memerintahkan hal di anggap itu bersih dan melarang hal yang di anggap itu kotor atau najis.
Dalam pandangan seorang muslim, kemuliaan seseorang adalah menurut pandangan sang Pencipta bukan menurut pandangan manusia belaka, dari sini islam mensyaratkan bersih dari najis ketika dalam momen sedang menghadap Tuhannya, misalnya ketika sedang mengerjakan shalat dan momen yang lain.
Sayangnya banyak dari kita tidak mengetahui tentang hukum dan aturan dari najis itu sendiri, banyak dari kita tidak tahu bagaimana membersihkan baju yang kena kotoran hewan, bagaimana mensucikan ketika baju itu terkena jilatan anjing, dan banyak lagi aturan yang di tetapkan oleh islam yang tidak banyak di ketahui oleh kita.
Lantas, bagaimana jika kita tidak mengetahui tentang hal itu, sementara jauh-jauh hari Rasulullah pernah bersabda “Allah tidak menerima shalat yang di lakukan tanpa bersuci (HR Muslim) kata suci yang oleh para fuqoha di maknai sebagai suci dari hadas dan suci dari najis. Tentu kalau syarat sahnya shalat saja tidak terpenuhi, shalatnya pun juga tidak akan sah. Wallahu A’lam

Masjd, Sebuah Tempat Yang Patut Disayangkan

Cuaca di kairo memang susah untuk di ajak kompromi, setelah cuaca yang nampak kegelap-gelapan alias musim semi sudah mulai berlalu, kini berubahlah menjadi panas, iya panas yang sangat berbeda sekali dengan cuaca yang terjadi di Indonesia, hal ini wajar saja karena mesir terletak jauh dari garis katulistiwa yang menyebabkan pemantulan cahaya matahari sangatlah dekat, yang tentunya berbeda dengan Negara Indonesia yang terletak satu garis sejajar dengan katulistiwa.



Cuaca ini biasanya paling tidak di sukai dari pada cuaca dingin, karena cuaca panas ini selain membuat orang merasa malas untuk keluar rumah juga karena pantulan panas yang di timbulkan secara langsung sangatlah buruk, seperti kulit menjadi hitam dan lusuh, hal ini tentu yang paling banyak di alami kami yang dari asia, yang notabene berkulit agak kecoklat-coklatan, selain itu cuaca ini juga membutuhkan banyak pengeluaran karena saking panasnya, kita sering membeli haga saah atau minuman dingin, dan hal itu hampir dapat di pastikan oleh semua orang.



Iya, sebotol air sangatlah berharga saat musim panas, penjual minuman dingin juga laris manis habis jualannya, siang itu saya nyaris bisa pingsan karena kepanasan, jalan sejauh kurang lebih satu kilo meter, tanpa topi dan tanpa membawa sebotol cairan untuk di jadikan sebagai persediaan minum, ketika itu yang ada di pikiran saya masjid dan masjid, tak tahu kenapa ketika saya mendengarkan masjid saya merasa ada suatu ketentraman di sana, karena selain disana saya dapat minum air dingin gratis, disana saya juga melihat dan mengikuti pengajian secara langsung, atau bahkan saya juga sering mendapatkan bantuan sembako atau uang dari sana.



Seperti di masjid al-Azhar misalnya, ketika saya berada di sana, saya banyak menjumpai mahasiswa Al-Azhar belajar, murojaah kitab, di barisan mimbar saya dapat mendengarkan ceramah-ceramah yang di sampaikan oleh para dosen universitas al-Azhar, sementara ketika saya memasuki ruangan ta’mir masjid saya dapat meghafalkan alqur’an dengan sanad yang tidak diragukan lagi terlebih tanpa di pungut biaya sepeserpun, tak hanya itu didalam masjid ada juga perpustakaan dengan bermacam-macam kitab turots, dan ada juga semacam lembaga yang didirikan oleh masjid yang bertugas menerbitkan buku-buku literature keIslaman berbahasa inggris yang dapat di bagikan secara gratis.



Miniartur seperti inilah yang selalu saya jumpai di bumi kairo ini, masjid sebagai suatu yang keberadaannya selalu menentramkan setiap jiwa yang sedang haus akan ilmu pengetahuan, dan juga haus ingin menyiram tenggorokan yang sedang kering menghadapi teriknya panas, selalu terbuka setiap waktu.



Saya merasa di paksa kembali mengingatkan apa yang terjadi pada banyak masjid di Indonesia, khususnya masjid di desa saya, masjid yang sepi, tiap kali saya hadir disana yang ada hanyalah kunci masjid yang di bawa oleh ta’mir masjid, masjid seakan hanya di jadikan sebagai tempat untuk ritual sholat lima waktu saja, setelah itu fungsinya akan kembali seperti biasa, sebuah bangunan yang hanya berlantai keramik, dengan kubah yang besar, bahkan ada sebagian umat Islam yang malas sekali ke masjid, sungguh ironis memang, peran masjid yang semakin di persempit, saya mungkin dapat menerka barang kali dua puluh tahun kemudian apa yang di sebut dengan sebutan masjid akan identik hanya sebagai ruang untuk mengerjakan sholat maghrib dan isya saja.



Meski antara Indonesia dan Mesir memang terdapat beribu-ribu perbedaan, kalau di Mesir di dalam masjid terdapat alat pendingin air, di Mesir terdapat ceramah para dosen Al-Azhar, dan di Indonesia tak banyak kita jumpai hal seperti itu, bukan berarti perbedaan itu lantas kita sikapi dengan sikap apatis terhadap masjid itu sendiri, bukankah masjid adalah milik seluruh umat muslim dan bukan milik ta’mir masjid saja?

Suwal Bolong



Aduh Suwalku bolong eh salah, celanaku berlubang coba lah katakan pada saya apa yang musti saya lakukan!! mo beli nggak punya uang, mo minta uang minta sama siapa? minhah juga pas-pasan, jalan satu-satunya ya kalau nggak di jahit ya harus di tambal.

Hal sepele seperti itu mungkin sangat biasa dalam kehidupan kita, apa lagi kita yang hidup di Negara dimana betapa sulitnya mencari suwal yang modis seperti selera kita orang Indonesia yang notabene semuanya pengen serba modis. Ditambah lagi hidup di negeri dengan biaya operasional kehidupan yang sangat pas-pasan, meski terkadang sebagian orang hidup berkecukupan dari hasil sogok ATM kiriman orang tua, tapi saya yakin kebanyakan dari kita termasuk dalam kategori yang pertama.

Bagi saya sendiri suwal bolong mungkin bisa dikatakan sebagai hal yang biasa, mempunyai suwal bolong bukan berarti kehilangan celana secara keseluruhan, tetapi kita cuma kehilangan satu celah saja yang menutupi badan kita yang membutuhkan sedikit pengorbanan untuk menambalnya dengan warna yang sama. Bahkan lebih dari itu bagi saya hidup itu memang perlu berkaca pada suwal bolong, iya suwal bolong, atau celana yang berlubang, pasalnya dengan suwal bolonglah kita akan mampu berkata, oh ternyata di kehidupan ini memang penuh dengan hal yang mirip dengan suwal bolong.

Dalam berinteraksi dengan orang lain kita dapat menganalogikan suwal bolong sebagai keburukan yang di miliki seseorang, dari sini kita dapat mengatakan bahwa suwal bolong itu pasti ada pada setiap individu yang bersuwal, setelah kita tahu bahwa semua orang pasti mempunyai suwal yang bolong apa yang musti kita lakukan, kita pun mungkin bisa menjawab, iya dengan membeli suwal yang baru lagi dong!! tapi jika kita tidak mempunyai dana yang cukup, tentu kita akan menambalnya dengan kain, begitu pula dengan manusia, dengan keburukan yang dimilikinya ia di tuntut untuk bisa menambal keburukan itu, saya dan juga kawan-kawan pasti tentunya sudah tahu apa yang menjadi keburukan masing, semisal saja saya, orangnya tak mahir dalam dunia komunikasi, tak punya bakat menjadi pembicara handal, itulah keburukan saya, lantas apakah dengan suwal yang bolong ini saya akan tetap memperlihatkan keburukan saya? Tentu saja saya merasa malu dengan keburukan itu, tapi saya akan tetap berusaha untuk menutupi keburukan saya ini dengan tetap berusaha menjadi orang yang berorientasi bukan pada dunia komunikasi, seperti menulis misalnya.

Memang sih suwal bolong itu tak semua orang mau memakai, tapi tak satupun orang berani menyangkal kalau dalam dinamika kehidupannya ia pasti mempunyai suwal bolong, tergantung pada diri masing-masing apakah ia mau sabar memelihara suwal bolongnya atau apakah dengan suwal bolongnya itu ia jadikan sebagai tumpuan untuk mencari hal yang bisa buat ia enjoy, atau dengan bersabar ia menanti perubahan dari suwal bolong itu kepada suwal yang baru, itupun kalau dirinya mampu membeli suwal yang baru, kalau tidak tentu ia akan berusaha memakainya dengan cara menjahit, menambal, baru setelah itu ia memakainya dengan nyaman, dan aman. Tapi meski suwal itu kita tambal atau kita jahit eksistensinya juga tetap sama, Suwal Yang Bolong, antara suwal bolong dan suwal tak bolong pun tak ada bedanya kecuali hanya sebuah sebutan saja, tapi satu hal yang pasti memang dalam kehidupan kenyataannya harus ada yang bolong dan yang tak bolong.

Abu Bakar isme Capres-Cawapres




Ketika Nabi wafat, tampuk kepemimpinan tanah arab pun kosong, dalam kekosongan itu akhirnya terpilihlah Abu Bakar Assidiq sebagai hasil dari sidang tokoh pemuka islam di tsaqifah Bani Saidah, setelah Abu Bakar menjadi khalifah ada hal yang menarik saat khutbah pertamanya :

“Kalau saya taat kepada Allah, bantulah saya, tapi jika saya bermaksiat kepada Allah maka sadarkanlah saya, taatlah kalian selama saya taat kepada Allah, dan kalau saya maksiat tak usahlah kalian taat kepada saya. saya sekarang telah menjadi pemimpin kalian, tapi saya bukanlah orang yang pling baik dari kalian”

Sepenggal kata-kata itu mungkin sudah tidak asing lagi di telinga kita kalangan akademisi, atau mungkin karena saking keseringannya sampai kesadaran hati para calon pemimpin kita tertutupi oleh kesibukan untuk memenangkan pemilu 08 Juli 2009 mendatang, iya pemilu untuk memenangkan kandidat calon presiden dan wakil presiden lima tahun mendatang menggantikan jabatan bapak SBY dengan masa jabatan yang sebentar lagi akan usai.

Tak di Indonesia tak juga di kairo, tak di blogger tak juga di dunia nyata semuanya sama sibuk melakukan kampanye dan menyampaikan janji-janji manis, mengoar-ngoarkan iming-iming kebaikan dari program lima tahun kedepan, yang berusaha untuk menarik hati rakyat, meski janji itu ada yang berupa cara lama, pembagian BLT, modal rakyat kecil, ataupun juga iming-iming kalau dia kelak menjadi presiden ia berjanji ia akan mengharumkan nama bangsa Indonesia di mata dunia. Dan juga banyak janji yang lain.

Tak tahu kenapa kampanye dan janji manis itu terasa kurang asyik dan menarik perhatian saya, malas rasanya mendengarkan obrolan-obrolan lama yang kalau bisa di bilang hanya itu-itu saja, mungkin karena karena rasa nasionalisme saya yang kian hari kian memudar, atau mungkin saya sendiri sebagai rakyat kecil kurang bisa menikmati apa yang sering di janjikan itu, itulah sebabnya hanya sekedar untuk menyebutkan semua nama calon wapres-cawapres saja saya tidak hafal, kemalasan itu mungkin disebabkan juga karena nama-nama capres dan cawapres adalah nama-nama lama, nama-nama itu saja. Sementara nama-nama baru yang lainnya saya kurang begitu hafal siapa dan apa pengalaman beliau-beliau.

Saya merasa semangat Abu Bakar para calon pemimpin kita serasa hilang saat ini, kebanyakan apa dari apa yang di kampanyekan tak lebih dari pada janji-janji belaka, terlebih ada isu yang mengatakan istri salah satu seorang calon presiden di gosipkan berjilbab hanya karena ingin menarik perhatian rakyat, hal itu semakin menambah kesan saya, seakan janji-janji hanyalah pemanis kampanye saja, tak ada satupun yang saya dengar langsung dari mereka rasa ketakutan kepada Allah jika janjinya kelak tidak dapat di penuhi, tak takut jika nantinya janji itu terbengkalai, atau malah janji itu akan mati, sementara dalam khutbahnya abu bakar, sebagai seorang khalifah di masa itu ia tidak mengobral janji tapi dia malah menganggap bahwa dirinya bukanlah yang terbaik di antara rakyatnya, dan dengan lapang dada beliau juga senantiasa membuka pintu saran, kritik dan masukan jika beliau sedang khilaf, entahlah.. apakah semangat Abu Bakar-isme ini akan tetap ada pada diri calon pemimpin kita atau tidak, saya cuma bisa berharap, janji bukan sekedar janji, janji itu adalah hutang, seperti sabda Nabi dan semoga mereka juga mengerti hal itu, karena kita pun juga sudah capek dengan janji-janji Wallahu A’lam

Antara Topi dan Songkok


Hari ini kota Kairo mulai memanas hingga mencapai 41 derajad celcius, sangat panas jika kita membandingkannya dengan Negara Indonesia yang beriklim tropis, jalanan yang biasanya bertiupkan angin sejuk, kini angin sejuk itu berubah menjadi angin panas. Hal itu memang sangat biasa bagi penduduk setempat karena memang kota Kairo ini terletak sebelah utara dari garis katulistiwa, yang tentu dengan iklim yang berbeda pula.

Satu hal yang sering saya pahami, Allah menganugerahkan kepada orang Indonesia tubuh yang rata-rata berperawakan sedang tidak terlalu kuat juga tidak begitu lemah, bertahan tubuh yang sedang-sedang saja, hal inilah yang membuat orang Indonesia di kota Kairo banyak yang memilih memakai topi saat mereka merasa kepanasan di jalanan ataupun di tempat terik lainnya, berbeda dengan orang mesir yang notabene berperawakan daya tahan tubuh yang kuat, ketika musim panas tiba mereka lebih memilih tidak bertopi dari pada harus bertopi, mungkin hal ini disebabkan juga oleh rasa biasa mereka dengan hadirnya musim seperti ini.


 Bertopi bagi sebagian orang sangat memberikan manfaat di saat kondisi seperti ini, karena bagaimanapun panas yang sampai pada derajad 41 celcius adalah terik yang sangat menyengat bagi kebanyakan orang Indonesia yang tak tahan dengan cuaca panas, tentu kerena di Indonesia tidak di jumpai cuaca sepanas ini, bagi mereka bertopi sungguh merupakan tempat berteduh dan pilihan untuk berlindung yang bermanfaat bagi wajah dari pantulan sinar ultraviolet yang tentu berbahaya bagi wajah, yang bahkan jika di biarkan terus-menerus bisa menimbulkan kanker kulit.


Tapi di lain waktu sebagian dari orang lain menganggap bertopi bukanlah hal yang patut di banggakan atau di prioritaskan, tidak Islami kata mereka, mereka lebih memakai songkok dari pada topi karena menurut mereka bersongkok mencerminkan pribadi seorang muslim yang taat beragama, walaupun bagaimanapun itu kondisinya, baik dalam cuaca panas, ataupun dalam kondisi dimana mengidentitaskan keIslaman kita adalah suatu yang aib sekalipun, mereka menganggap bahwa Islam itu harus di perlihatkan kepada dunia tiap detik dan waktu, tidak peduli dalam kondisi apapun yang penting dirinya harus melihatkan simbol kepribadian Islam.


Menurut saya sendiri, mereka yang menganggap orang yang bertopi adalah tidak mencerminkan pribadi seorang muslim  (jika saya mem-mafhum mukholafah red) saya rasa mereka tidak memperhatikan aspek kebaikan di  dalam bertopi itu sendiri, mereka hanya berhujjah bahwa dirinya akan menjadi sosok yang Islamis jika ia menggunakan songkok, meski dirinya semisal akan terkena sengatan matahari yang terik sekalipun.


Apapun itu Saya tidak ingin mengadili mereka, saya rasa semua itu adalah pilihan masing-masing, tapi hati kecil saya kok condong bahwa bertopi itu lebih bisa dikatakan lebih Islami dari pada kita bersongkok disaat kondisi seperti itu, karena bagaimanapun bertopi sangat sejalan dengan semangat keislaman itu sendiri, semangat untuk menjaga kesehatan, semangat untuk melindungi diri dari bahaya, dari pada harus bersongkok yang bisa jadi merasakan panas yang luar biasa tentu hal itu tidak di sukai oleh diri kita atau mungkin boleh jadi bisa menimbulkan penyakit, yang tentu akan menyebabkan kita absen dari kegiatan keseharian kita, al muslim qowwi khairun min muslim al dlo’if seorang muslim yang kuat lebih baik dari pada muslim yang lemah. bukan kah seperti itu anjuran Rasulullah? Wallahu A’lam

Salahkah Saya Berjenggot?


"Apakah anda seorang teroris?" Tanya si A
"Oh, bukan kok saya malah sangat menentang tindakan teroris." Jawab si B
"Apa bukti anda untuk mengatakan saya teroris?" Tanya si B

"Lah itu, jenggot yang anda punya" Jawab si A




 Hari-hari ini kepolisian Mesir sibuk melakukan razia anti-terorisme, kemungkinan besar hal ini di pengaruhi oleh trauma tragis yang pernah terjadi di daerah Khalili Masjid Sayyidina Husain (tempat dimana salah satu jasad sayyidina husain di makamkan) kemaren, bom yang menewaskan satu turis dan puluhan turis yang lain luka-luka, dan ternyata si peledak bom itu adalah seorang muslim ekstremis, atau muslim garis keras yang sering kita menyebutnya sebagai teroris.



Razia yang di lakukan kepolisian Mesir itu tidak hanya mengganggu ketenangan para penduduk Mesir tetapi kita yang notabene sebagai mahasiswa asing yang belajar di Al-Azhar ikut menjadi korban, pasalnya polisi yang merazia itu tidak hanya sibuk merazia kartu identitas (paspor) tetapi juga memeriksa file-file yang ada dalam komputer.



Malam itu saya nyaris tak bisa keluar asrama tanpa menggunakan paspor, saya selalu menyelipkan paspor di tas saya, saya takut ditahan kepolisian terkait dengan tuduhan terorisme, karena kebanyakan polisi Mesir menciduk orang-orang yang di curigai sebagai teroris, justru malah mereka yang biasanya muslim yang taat beragama, muslim memelihara berjenggot, berpakaian Islami jalabiah (jubah), dan ciri yang lainnya


Saya merasa aneh hidup di Negara yang nilai-nilai keIslaman begitu kental ini, orang yang hendak menerapkan nilai-nilai Islam (memelihara jenggot, memakai baju-baju muslim Red) malah di tangkap dan di curigai sebagai penebar kekejaman dan kekerasan terhadap orang lain. Saya merasa sedih dengan fenomena seperti itu, memang pemahaman tiap orang terhadap Islam kerap kali berbeda satu sama lain, ada yang memahami Islam sebagai agama yang keras, dan sebaliknya ada yang memahami nilai-nilai Islam dengan nilai yang lembut dan ada juga yang memahaminya dengan kolot, sampai tak mau menerima kemodernan. Tapi bukan lantas semua orang yang mencoba menerapkan nilai Islam patut di berikan kepadanya sebuah label teroris.


Saya dapat menyimpulkan bahwa pandangan dunia terhadap dunia  Islam memang akhir-akhir ini sangat buruk jika di bandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, dunia memandang Islam sebagai agama yang menebarkan kekejian dan kekerasan, bahkan di Amerika Serikat seperti di kutip dari buku Aku Menggugat maka Aku Kian Beriman, karya Jefferey Lang, saat ini banyak orang non muslim setelah masuk Islam kembali meninggalkan agamanya, karena termakan oleh beberapa kajian orientalis yang mencakup diantaranya tentang keotentikan al Hadist, Islam dan perempuan, dan jilbab. Saya tak hendak membahas isu yang terakhir ini, yang jelas Islam saat ini telah menjadi isu sentral terkait tuduhan teroris setelah kejadian 11 september kemaren.


Misi untuk mencegah berkembangnya teroris inilah yang saya lihat hendak di capai oleh pemerintahan Mesir, cukup bagus memang kalau kita lihat secara kasat mata, namun bagi saya sendiri justru dampak buruk ini semua juga akan diterima oleh umat Islam sendiri, akan timbul upaya untuk saling curiga-mencurigai, dan tuduh menuduh satu sama lain.


Masih terngiang-ngiang jelas di telinga saya, ketika saya sedang menunggu bus di Mahattoh salah orang Mesir berbisik pada temannya bahwa saya adalah irhabi (teroris) hanya karena melihat saya berjenggot. apapun itu  saya masih yakin apa yang di katakan Nabi yang menyuruh kita untuk I’faul lihyah (memelihara jenggot) dengan alasan untuk membedakan umat Islam dengan non Islam, Ah mungkin ia tidak paham dengan hal itu. lirihku Wallahu A’lam

Salutku Pada Suku Afrika

Paras wajahnya memang tak begitu ganteng menurut saya, tapi menurut anggapan orang satu suku dan satu negaranya (Senegal) ia termasuk golongan dambaan kaum hawa, orangnya suka bergaya bak orang sukses meski dia sendiri lagi bokek, tapi menurut saya itu hal yang wajar bagi anak muda seusia dia, hasrat yang selalu pengen mandapat perhatian dari lingkungan sekelilingnya, Muhammad Ibrahim begitulah kawan senegaranya memanggil, kulit yang hitam dan benar-benar hitam, dapatlah anda membayangkan jikalau saya mematikan lampu kemudian saya memintanya untuk tertawa, pasti yang terlihat cuma giginya saja. Namun lain halnya jika saya memintanya untuk melanjutkan potongan ayat al-Qur’an, dengan cepat dia pasti akan melanjutkan ayat yang saya tanyakan tadi, atau saat saya menanyakan padanya tentang bait-bait syair arab, syair yang terkenal dengan kosakata yang super sulit, ia akan menerjemahkan pada saya tentang makna syair itu, ini yang membuat saya kagum padanya betapa cerdas otak orang ini, mungkin ilmuwan sekaliber Newton pun akan mengangguk-anggukkan kepala melihat kecerdasan orang ini.



Lain halnya dengan kawan yang satu ini, teman-temannya memanggil dengan sebutan Deco, orangnya nyeleneh, suka maen bola, pemalas, belajarpun jarang, apalagi kalau disuruh mengerjakan shalat lima waktu, pernah suatu ketika, saya melerainya untuk mengerjakan shalat, apa yang dia katakannya? ia mengatakan “jika kau menyuruh orang Comoros (Negaranya) mengerjakan shalat maka mereka pasti akan mengatakan kepadamu kami sudah sholat di hari kemaren” Dari perkataannya itu seolah ia hendak menggeneralisir bahwa semua orang yang berasal dari negaranya (Comoros) seolah mengerjakan seperti apa yang dia kerjakan, namun di balik keburukan yang dia milliki terdapat seribu kebaikan yang sering dia lakukan, sampai kawan-kawan satu komplek banyak yang menyukai peergaulannya, inilah yang kadang membuat saya berfikir tentang sebagian kelompok dari orang Islam yang mengatakan tidak wajibnya shalat, atau mencukupkan shalat hanya mengingat (dzikir) pada Allah saja, dalam bahasa ilmiahnya re-interprestasi Fiqih Ritual menuju Fiqih Sosial, tapi saya rasa penfsiran seperti itu tidak rasional dan tidak dapat di pertanggungjawabkan secara ilmiah, bagaimanapun Shalat adalah ciri khas yang di milliki umat Islam, dan saya rasa pula semua agama pasti memiliki ciri khas yang membedakannya dengan agama lain, dengan shalat inilah umat Islam terasa berbeda dengan penganut agama lain; Kristen, Hindu, Budha, dsb. Dalam istilah ushul fiqih ayat yang mewajibkan kewajiban yang sifatnya mujmal seperti ayat Aqimu Assholata, tidak boleh di maknai secara lughowi saja tapi harus di maknai secara syariat (bayan minal mutakallim atau Allah), Shollu Kama roaitumuni usholli, cukuplah itu menjadi hujjah bahwa memang shalat itu tidak sekedar dzikir. Dan akal saya pasti mengatakan temen saya yang satu ini salah, menurut pandangan Islam, tapi ala kulli hal kepandaiannya memahami bahasa arab-lah yang membuat saya kagum dan bangga punya kawan seperti dia, dialah yang mengajarkan kepada saya banyak bahasa pasaran Mesir



Yang satu ini memang dia orang yang menurut saya, seseorang yang selalu ingin dapat petunjuk dari Tuhan, alias orang yang berusaha untuk taat beragama di segala aspek, berangkat hanya berbekal uang yang pas-pasan dari Negara asalnya ia melangsungkan study di negeri Mesir, itupun dengan bahasa arab yang sangat bisa dikatakan nol. Yang akhirnya ia hanya di perbolehkan memasuki Ma’had atau Tsanawiyyah kalau di Indonesia, satu yang hendak saya garis bawahi dari pemuda asal Juzur Qomar ini adalah ketekunannya dalam meraih sesuatu, hal ini terbukti dengan bahasa arabnya yang kian hari kian lancar, setelah sebelumnya cuma bisa mengatakan na’am dan la. Namun saat ini, kadang malah saya sendiri yang kuwalahan berbicara berbahasa arab secara Fusha dengannya.



Hal seperti ini sama persis seperti yang saya jumpai pada salah seorang yang berpostur tinggi, murah senyum, selalu menyapa jika bertemu dangan kawan lainnya, Abdul Latief, kewarganegaraan asli Sudan, namun berpindah Negara ke Negara Afrika Tengah, berumuran sekitar dua puluh tiga tahunan, meski sudah agak tua, tapi semangatnya untuk belajar melebihi apa yang di anugrahkan oleh Tuhan kepadanya. Pasalanya, dengan kesibukan yang bermacam-macam hanya cukup dua tahun ia mampu menghafal al-Qur’an dengan lancar, malas dalam menghadapi sesuatu itu adalah hal yang manusiawi, lebih susahnya lagi bagaimana kita mampu menjaga agar rasa malas itu dapat kita hilangkan meski kita sedang malas pupuk rasa istiqomah itu!!, kata itu yang pernah dia nasehatkan pada saya ketika saya menanyakan kepadanya terntang rahasia keistiqomahannya. Dan yang pasti setelah ujian bulan ini ia hendak mempelajari bahasa inggris dengan Jamid (sungguh-sungguh sampai bisa) dan sayapun langsung percaya dengan perkataannya itu bahwa dia akan mampu menggapai mimpinya.



Satu hal yang dapat saya tarik kesimpulan disini adalah betapa Allah SWT memang Maha Adil, ketika Dia memberikan kekurangan pada jasmaniyyah mereka, kulit yang hitam, rambut yang keriting, postur wajah yang tidak ganteng-ganteng amat, atau kadang amat buruk. Namun kecerdasan dan ketekunan yang dimiliki mereka melebihi kecerdasan dan ketekunan yang di miliki oleh kita yang berkulit putih, atau kulit coklat seperti orang Indonesia sekalipun, sampai salah satu teman pernah mengatakan kepada saya “jika jamaah shalat subuh tiba, yang terlihat di masjid cuma orang afrika saja, mana ada orang Indonesia disana? saya pun hanya tersenyum manis menanggapinya. Wallahu A’lam

Cukup Lima Puluh Real Saja

Judul simpel itu, terasa jelas untuk menggambarkan betapa sedih, kaget atau bahkan merasa malu sebagai WNI untuk mendengarkan fenomena baru-baru ini, ternyata untuk mencicipi tubuh wanita Indonesia cukup murah, hanya dengan membayar lima puluh real saja, hal itu bukan saja memekakkan telinga atau menyulutkan kemarahan kita, lebih-lebih praktek ini dilakukan di Negara bukan Negara kita sendiri, di Negara dollar minyak, Saudi Arabia, bahkan ironisnya lagi, fenomena seperti itu di kuatkan dengan otoritas fatwa ulama



Isah Noer (24) salah satu sederetan nama yang menjadi jajanan para pria Arab, janda yang menjadikan nikah bi niyyat at-thalaq sebagai pekerjaannya, setelah dulunya menjadi istri dari mantan suaminya, pria Arab yang pernah menikahinya kemudian setelah beberapa lama menjalani bahtera keluarga si pria itu menceraikannya, lantas apa yang salah dari semua itu, toh si suami itu juga punya otoritas cerai? pria itu ternyata hanya berpegang pada sebuah fatwa yang membolehkan nikah dengan bertujuan untuk menceraikan si calon istri yang di keluarkan oleh Haiah Kibar Ulama’ atau MUI Saudi yang waktu itu di ketuai oleh Bin Baz, Si Isah pun tidak tahu menahu tentang kenapa suaminya tiba-tiba menceraikannya, usut demi usut ternyata ia mengikuti pendapat yang membolehkan nikah seperti itu.


Yang saya janggalkan disini adalah tentang Fatwa semacam ini, kok bisa-bisanya fatwa yang secara rasional jauh dari kemaslahatan itu, menjadi kesepakatan konsesus kibarul Ulama’? pada hal fatwa itu sangat bertentangan sekali pada prinsip dan pokok ajaran islam, serta prinsip dan metode memberikan sebuah fatwa, di antaranya fatwa itu harus melihat kemaslahatan kaum muslimin tanpa ada batas-batas pemisah, baik itu penduduk asli atau bukan?


Saya hanya ingin menggaris bawahi tentang fatwa yang buat saya aneh itu, tentang bagaimana seharusnya sebuah fatwa itu bisa menjadi legalitas hukum islam yang tentu dengan konsekuensi bahwasannya umat islam wajib mentaati fatwa itu, apa dan bagaimana hakikat fatwa itu?


Dalam islam fatwa menduduki sebuah posisi penting, karena dengan fatwa itulah keotentikan hukum dan kemurnian hukum islam dapat terjaga dengan baik, otoritas fatwapun tidak semua orang dapat melakukannya, ia hanya di berikan kepada orang yang telah mempunyai kapabel dalam mengistimbatkan hukum dari sumbernya, dengan menggunakan metode isthimbatul Ushul Ahkam yang telah di gariskan oleh islam itu sendiri. Fatwa bisa bersifat per-individu atau kolektif seperti MUI, fatwa individu (fatwa untuk diri sendiri) sifatnya merupakan pendapat atau hasil ijtihad dari seseorang saat ia mampu mencapai tingkatan Mujtahid, inilh yang di singgung hadits yang menyatakan jika seseorang mujtahid itu benar dalam ijtihadnya maka dia akan mendapatkan dua pahala. dan jika dia salah dalam berijtihad maka ia akan mendapatkan satu pahala.


Sebagai orang awam, sikap yang di anjurkan oleh islam adalah mengikuti orang yang dimintai fatwa olehnya itu, dengan keringanan untuk bebas memilih pendapat mana yang di sukainya, berbeda dengan orang yang mempunya kapabelitas dalam berijtihad, ia di haruskan sekuat tenaganya mencurahkan segenap kemampuan untuk mengeluatrkan pendapatnya berdasar dalil yang ada.


Orang yang memberi fatwa itupun (jika ia adalah perwakilan fatwa sebuah wilayah, seperti MUI) tidak cukup seenaknya sendiri, maka di syaratkanlah baginya untuk membuat fatwa itu sedetail mungkin dan mampu memberikan solusi kongkrit bukan malam membuat orang lain bingung serta dengan mempertimbangkan kondisi sosial dan kultural, sehingga di harapkan nanti tidak gegabah dalam produk fatwa yang di hasilkan kelak.


Rasanya syarat yang terakhir inilah terasa rigid dalam kaitannya Fatwa Kibarul Ulama Su’udi ini, fatwa ini terkesan menghalalkan nikah mut’ah, nikah yang sudah jelas-jelas di haramkan dalam agama, nikah yang hanya memuaskan hawa nafsu kaum lelaki saja. saya sendiri kurang tahu persis apakah yang melatar belakangi di keluarkannya fatwa ini, saya lantas mencoba berhusnudz-dzon saja, mungkin ketika itu ada beberapa maslahat yang lebih di periotaskan dengan menggugurkan kemungkinan-kemungkinan buruk yang ada, tapi saya kok merasa sulit untuk sekedar berhusnuddzon, yang namanya zina itu ya haram, apa lagi di legalkan untuk menjustifikasi zina itu, yang ada malah prostitusi bertebaran di mana-mana kata hati saya menguatkan.


Dengan menafikan ke-husnuzzon saya tadi, saya kira fatwa memang sifatnya berubah-ubah sesuai kondisi waktu yang ada, jika ada fatwa yang tidak sesuai dengan kondisi yang ada, fatwa itu lah yang harus tunduk pada kondisi, serta zaman yang ada. jadi sangat benarlah apa yang dilakukan oleh Kepala Bidang Pembimbingan Masyarakat (Qism ar-Ra'aya) Kedutaan Besar Saudi Arabia di Jakarta untuk mendesak Badan Pembesar Ulama (Hay'ah Kubbar al-Ulama) kerajaan petro dollar tersebut untuk mengeluarkan fatwa baru yang menyikapi maraknya fenomena "pernikahan" para lelaki Saudi dengan perempuan Indonesia "yang diniatkan adanya talak (cerai) setelahnya" (nikah bi niyyat at-thalaq).


Saya teringat pada tahun lalu produser perfilman Indonesia mengeluarkan film dengan judul Kawin Kontrak, film yang konon kata kawan saya sangat tidak memuliakan kaum hawa, menceritakan tentang tiga anak muda yang melakukan kawin kontrak di daerah Jawa Barat. Kurang lebih seperti itulah gambaran umum fenomena yang di hadapi oleh para TKW saat ini, mereka terpaksa harus memakan buah simalakama saat menjumpai betapa sulitnya mencari pekerjaan di negeri orang sementara pada satu waktu dilema pula oleh kondisi ekonomi yang begitu mendesak, dengan menjual harga dirinya cukup dengan 50 real saja, dirasa meringankan beban mereka yang di pikul. Wallahu A’lam bisshowab

Mesir yang aneh


sdededfe

Musik dan Kawula Muda



“Hak, tadi malam sewaktu saya sama orang indonesia sedang bermain gitar, saya di tegur oleh salah satu orang afrika, katanya bid’ah haram, bahkan diambahkannya akan di ancam dilaporkan kepada pimpinan asrama saya bilang saja terima kasih"
Ungkapan ketidaksetujuan teman saya itu terlihat saat orang afrika melarangnya untuk bermain gitar, di katakannya bid’ah yang haram, dan lebih tidak tidak fearnya lagi di ambilnya dalil-dalil alQur’an yang sama sekali tidak menyokong pendapat itu.

Sikap dan ucapan teman saya tadi kurang tepat dalam menghadapi hal seperi itu, dalam metode diskusi yang benar kita harus mengutarakan sandaran atau hujjah kita, supaya dia dapat berdialog dengan baik dengan si afrika tadi, karena musik masih termasuk dalam kategori masalah yang masih di perselisihkan diantara kalangan ulama’ islam.

Ketika itu saya harus kembali mengingat Negara Indonesia, Negara dengan jumlah muslim terbesar di dunia juga negara yang bisa dikatakan sebagai Negara musisi tumbuh berkembang dengan pesat, mulai dari musik yang disukai anak muda sampai musik yang di sukai para golongan tua, semuanya ada. seandainya kita ikut membenarkan apa yang dikatakan orang afrika tadi sulit kita akan terjebak dalam satu kubangan yang sulit, dan kita akan terasa dilema oleh dua hal yang saling bertentangan.

Tapi dalam satu waktu kita akan membenarkan apa yang di katakan orang afrika tadi jika kita melihat dari sisi akibat yang di timbulkan oleh musik itu sendiri, Perkembangan musik yang tanpa terkendali di Indonesia, tanpa batas yang pasti, sehingga para musisi membuat aliran musiknya sesuka mereka, toh Negara sendiri juga menjamin warga negaranya untuk bebas berekspresi dalam segala hal. Dari sini timbullah konsekwensi logis dari para penggemar mereka (kawula muda-red), jangan tanyakan jika para mereka mulai bertingkah laku yang tidak senonoh karena mengikuti trend para idola mereka, hal ini senada dengan apa yang di nyatakan oleh ibnu khaldun dalam muqaddimahnya dimana “pihak yang kalah akan cenderung mengikuti pihak yang menang” karena zaman sekarang musik di Negara kita seakan sudah menyatu satu aliran darah mereka.

Tampaknya pikiran saya mencoba berfikir ketika salah seorang teman mencoba meyakinkan pada saya, kalau hanya mendengarkan sih tidak apa lah, bukankah hanya mendengarkan? Dan tidak hanya mengikuti trend mereka para anak-anak band yang tak punya tata karma itu? katanya

Saya mencoba mencerna omongan teman saya itu, justru syair itulah akan timbul berbagai macam hal baru, bukankah berbagai anggapan, tingkah laku, dan cara pandang timbul dari sebuah kata? kalau benuansa kisah cinta kita justru akan selalu membuat kita mengisi hari-hari dengan sibuk merindukan sang kekasih yang kadang bukan mahram kita, bahkan kita akan kelupaan waktu kita, kalau bertemakan cinta rasul setidaknya menambah kita akan cinta pada Rasul, bahkan kalau bertemakan perjuangan, semangat meraih cita-cita itu malah lebih baik. tapi sayang dan seribu sayang di Indonesia yang bernuansa seperti itu jarang kita jumpai.

“Ah itulah kekurangan musik di Indonesia semuanya berbau cinta saja tak ada yang mau membuat terobosan baru bernuansa semangat meraih cita-cita, bernuansa cinta rasul, kehidupan dan sampai kapankah kita akan di jajah ideologi yang tidak mendidik seperti ini? Saya hanya bisa berharap di kemudian hari akan lahir musisi yang membawa warna baru di negeri tercinta.

Satu hal yang saya masih salut dan kagum dengan Negara Malaysia adalah semangat para musisi di negara itu dalam membangun semangat warganya baik itu dalam semangat keagamaan maupun semangat melakukan hal-hal yang baik, seperti Raihan, UNIC, inTeam dan lain sebagainya. Semangat seperti inilah yang patut kita contoh, bukan hanya berkutat pada cinta, dan mengedepankan kesombongan-kesombongan di atas panggung konser.

Tak mudah memang kita menghilangkan ideologi yang sudah mengakar di fikiran anak muda saat ini, tapi bukan berarti kita tidak bisa menghilangkannya sama sekali, kita bisa dengan memulai dari sendiri, dengan berjanji dan berikrar untuk mendengarkan musik-musik yang memberikanken manfaaat pada diri kita, bukan hanya menuruti hawa nafsu belaka.

Ujian dan Syukur


“Itulah hidup, semuanya penuh dengan ujian, makanya kamu jangan mudah menyerah, terus berjuang, tak ada kata menyerah dalam hidup ini” kata bapak.

Sebagai manusia yang hebat tentu ia tak dapat lepas dari ujian, mulai dari presiden, sampai menjadi tukang ojek pun mengalami berbagai ujian, seorang presiden harus memenuhi kriteria yang di maksudkan, sementara kalu tukang ojek harus mampu mengemudikan sepeda motornya untuk bisa disebut sebagai tukang ojek.

Dan seperti mereka, saya juga harus duduk manis untuk mengerjakan soal-soal ujian semesteran yang diadakan setiap enam bulan sekali, dengan duduk yang saling berjauhan terpisah dari yang lain, harus saya kerjakan dengan sendiri beberapa soal yang di tuliskan dosen saya. Yang terkadang masih membutuhkan kemampuan yang ekstra untuk bisa membaca apa yang dimaksudkan soal itu.

Memang terkadang kita merasa tidak adil ketika kita merasa di anak tirikan, begitu juga saya, ketika melihat satu teman dari negara syiria yang menyontek, malahan si pengawas membiarkannya, ingin saya berontak tapi saya tidak berani, saya pun hanya diam melihat gerak-gerik yang dilakukan oleh teman saya itu, ah kenapa justru dia yang konon anak arab malah pemalas, bukannya kita yang non arab malah lebih rajin dari mereka nggak bersyukur banget. Dalam hati saya menggerutu.

Ah hidup, memang takkan ada puasnya kalau kita tak menyadari bahwa nikmat yang diberikan oleh Nya sungguh sangat banyak dan berlimpah ruah dan kalaupun kita disuruh menghitung pasti kita tak akan mampu untuk menghitungnya, qarun misalnya ketika ia miskin ia rajin beribadah, rajin melakukan amal kebajikan dan suasananya berbeda secara drastis ketika ia menjadi seorang yang kaya raya, tapi apa yang terjadi ? Allah menjadikan semuanya lenyap, tanpa yang tersisa, oleh karena itulah kita sering menyebut harta yang kita temukan dengan harta karun.

Sering kita mispersepsi dengan makna ujian yang sebenatnya, waktu yang diberika selama dua jam itulah yang kita sering sebut sebagai terminal akhir belajar kita, pada hal sesungghnya ujian lebih luas maknanya dari pada itu, lebih dari sekedar menghafal diktat kuliyah dan menuliskan nya dalam sebuah kertas dan selesailah semuanya.

Bagi saya ujian punya arti penting untuk mengetahui seberapa besar kemampuan kita, untuk dijadikan sebagai tolak ukur ilmu yang kita dapatkan, tapi bukan satu-satunya tujuan kita yang kita untuk mencari prediket baik alias cumlaude, tapi di balik itu semuanya ada tujuan yang lebih mulia, yaitu menjadikan ujian sebagai sarana kita meraih ridha ilahi demi kebeahagiaan hidup di dunia dan akhirat bahkan dalam salah satu tulisannya Muhmmad ghazali, penulis aktif Mesir, mengatakan sebagai penyekutuan terhadap Allah kalau kita melakukan sesutu untuk sesuatu itu bukan untuk Allah semata.

Jatuh Cinta Disaat Yang Salah

Mas, aku sangat mencintaimu, aku tidak pengen kehilangan kamu, aku pengen kita menjadikan ujung tombak sebagai terminal akhir hubungan kita, dalam artian kita bisa menjalin hubungan yang serius dari pada ini. Ungkapannya itu tertulis ketika saya membuka inbox di email saya. Saya pun bingung bagaimana membalas email itu, karena berbagai kebimbangan yang masih terngiang-ngiang dalam otak ini, apa saya tak bisa memilih perempuan yang selain dia, dengan ucapannya itu berarti saya tak ada pilihan lain kecuali harus menikahi dia. Tapi saya merasa kurang mantap dengan dirinya, setelah saya tahu kalau dirinya bukan seperti calon isteri yang saya idam-idamkan.
.
Sepulang dari warnet membuatku berfikir tentang hubungan ini, apakah saya lebih baik memutuskan hubungan ini, atau apakah saya harus hidup dengan keterikatan yang tidak saya senangi dan memaksa diri ini untuk menjadi pendamping setia dengan kekasih yang tidak saya kagumi, Sementara kalau saya memutuskan hubungan ini, berarti saya harus menyakiti hatinya, dan tentunya si dia akan benci pada saya dan berbagai macam masalah tentu akan saya dapati. Akhirnya saya tertidur dengan kebimbangan yang masih tersisa.




Saya memang bukan lah seorang hamba yang taat kepada-Nya, hasrat yang di miliki anak dewasapun saya tidak bisa mesikapinya sebagai hamba Allah yang taat terhadap apa yang di perintahkan-Nya kepada kita, dulu sebelum keberangkatan saya ke negeri Kinanah ini saya sempat kenal dengan seorang gadis yang sekilas tampak anggun, cantik dan menawan, ia menarik hati saya, tanpa berfikir panjang saya pun akhirnya jadian sama si dia, sampai akhirnya hubungan itu berakhir dengan kabar keberangkatan saya ke Mesir. Tapi itupun tak membuat hubungan kita putus di tengah jalan.




Waktu semakin berjalan, dan detik pun semakin berlalu, setahun rasanya seperti satu hari, hubungan ini pun masih tetap bertahan, tapi banyak hal yang baru saya sadari saat di sini, setelah hari-hari yang saya lewati sibuk bergelut dengan khazanah Islam, dan banyak mengikuti talaqqi (artinya pengajian). Di sela-sela pergaulanku dengan para teman-teman sefakultas, hasrat untuk mempunyai isteri yang shalihah pun mulai ada, karena bagaimanapun isteri shalihah adalah isteri idaman setiap manusia yang selalu bisa menyenangkan si suaminya begitu ucap salah satu temanku. Saya pun sadar betapa kekasih hati yang saya punyai saat ini sungguh kriteria yang ada pada dirinya jauh dari harapan, ah, saya pengen isteri shalihah, gumamku dalam hati. Sejak saat itu saya sangat menyesal dengan ulahku di masa dulu yang seenaknya saja mengajak jalan seorang wanita, tanpa batasan apapun dan tanpa berfikir akibat yang akan saya alami.




Saat itu saya baru sadar ternyata saya terjatuh dalam buaian cinta pada saat yang salah. Dan Islam lah yang benar, ia mensyariatkan kepada kita semua akan pernikahan dan tidak ada pacaran sebelum resmi menikah, itulah hikmah kenapa Islam mensyariatkan khitbah, agar si laki-laki dan wanita bebas memilih apa dia saling suka apa tidak, sehingga apa bila salah satu tidak suka tidak apa, toh kehormatan si wanita juga akan tetap terjaga, begitu juga dengan hubungan silaturrahmi keduanya. Hal ini berbeda dengan pacaran dahulu kemudian menikah, ketika pernikahan gagal menjawab terminal akhir hubungan mereka, malah tak jarang akan menjadi bibit permusuhan antara keduanya, dan si wanita juga kehormatannya sudah tidak terjaga lagi.




Masa muda adalah masa di mana hasrat untuk mencinta dan dicintai mulai tumbuh dalam diri mereka, dan itu memang hasrat yang telah di gariskan oleh-Nya kepada kita semua. Tapi bukan lantas saat kita di beri anugerah itu, kita bisa berbuat semau kita dan seenak kita, Allah menggariskan kepada kita aturan yang musti kita kerjakan agar kita tidak menyesal dan kita tidak rugi di masa depan, seperti yang saya alami saat ini. Dan pada akhirnya lebih baik menunggu dari pada menanti hal yang tidak pasti akan terjadi, lebih baik mengisi masa muda dengan hal yang bermanfaat untuk masa depan kita.

Belajar dari Negeri Kinanah

Waktu Cairo nampak mulai berubah dari musim dingin menuju musim semi, saat dimana tubuh ini harus berbalut dengan jaket tebal, untuk sekarang baju lengan pendek pun sudah saatnya di pakai. Siang itu saya mendapat undangan untuk menjadi moderator dalam acara latihan menulis dan menerjemah di daerah Kattamea yang jauhnya mencapai seratusan kilo dari asrama saya yang bertempat di daerah Abbasea.Perjalanan dari Abbasea ke Kattamea memang jauh, naik bis dua kali dan memakan satu jam, belum lagi nunggu busnya, tapi siang itu saya memang kurang beruntung setelah setengah jam menunggu, baru dapat bis, itu saja penuh dengan penumpang, akhirnya dengan terpaksa saya naik bis itu meski tak ada tempat duduk yang kosong.

Setelah sampai di daerah Sayyidah Aisyah, daerah tempat sayyidah Aisyah, istri Rasulullah di makamkan. Saya kembali naik bis untuk kedua kalinya, dan Alhamdulillah saya dapat tempat duduk, meski banyak orang lain yang berdiri, bergelentungan, dan berdesak-desakan. Saya dapat menikmati hamparan pasir, beraneka ragam gedung menjulang tinggi. Perusahaan dan pertambangan Mesir membuat suasana khas dengan alam arab nya.

Tanpa saya sadari di tengah-tengah perjalanan saya menuju kattamea, ada seorang wanita hendak menaiki bis yang saya naiki, tapi sayang semua tempat sudah penuh di penuhi semua penumpang, tapi dengan segera saya lihat salah satu lelaki yang naik bismempersilahkan tempat duduknya untuk ditempati oleh si wanita itu dan dirinya memilih berdiri demi wanita itu, tak lama kemudian bus semakin penuh dengan penumpang, saya semakin merasa tidak nyaman, udara semakin terasa panas, saya nyalakan mp3, untuk mnghidupkan suasana hati yang jenuh menghadapi suasana desak-desakan. Tanpa sengaja temanku dari satu negara terdesak dan kena tubuh wanita Mesir langsung saja si bapak yang ada di sampingnya marah-marah, saya sendiri tak tahu kenapa bapak itu marah, "ah mungkin saja bapak itu salah faham" gumamku dalam hati, ternyata sangkaanku itu salah saat salah satu dari teman yang lain bilang kalau "Wanita di Mesir ini sangat di hormati sekali ente menggoda cewek mesir hati-hati kalau sampai ada yang memukul ente". Sayapun mulai faham kenapa si bapak itu marah saat si wanita itu terdesak oleh orang lain.

Setelah beberapa menit saya direngkuh kebisingan yang membosankan, akhirnya sampai pada tujuan, Kattamea, saya maju ke depan untuk siap-siap turun dari bis, namun di depan ada seorang bapak tua yang juga ingin turun, ugh, bapak ini gumamku. nazil?? (artinya turun??) Tanyaku. Insya Allah, ucap bapak itu. Saya pun tak jadi memarahi bapak itu, saya tersenyum manis kepadanya, setelah mendengar bapak itu mengucapkan Insya Allah.

Sejak saat itu saya senang sekali untuk mengucapkan insya Allah dalam banyak hal, saya teringat ketika nabi Muhammad di lerai Allah karena lupa tidak mengucapkan Insya Allah, ketika ada beberapa orang Quraisy bertanya kepada Nabi tentang roh, kisah ashhabul kahfi (penghuni gua) dan kisah dzulqarnain lalu beliau menjawab, datanglah besok pagi kepadaku agar aku ceritakan. Dan beliau tidak mengucapkan "Insya Allah", tapi kiranya sampai besok harinya wahyu terlambat datang untuk menceritakan hal-hal tersebut dan Nabi tak dapat menjawabnya. Maka turunlah ayat alkahfi 23-24, sebagai pelajaran terhadap Nabi; dan Allah mengingatkan juga bilamana Nabi lupa menyebut Insya Allah haruslah segera menyebutkan kemudian.

Pelajaran kedua yang dapat saya petik adalah penghormatan terhadap seorang wanita yang sangat dijunjung tinggi, saya teringat dengan ayat-ayat Allah yang banyak menjunjung tinggi derajat wanita di dalam banyak kisah di dalam Al Qur'an diantara salah satunya yaitu kisah Maryam. Dan ketika malaikat berkata kepada Maryam Wahai maryam Allah telah memilihmu dan mensucikanmu atas para wanita di muka bumi ini.wahai maryam beribadahlah kamu dan bersujudlah dan ruku'lah beserta orang-orang yang ruku' (QS : Ali Imran 42-43) bahkan nabipun menggambarkan kedudukan mulianya seorang wanita dengan menggambarkan surga ada di telapak kaki ibu.

Kejadian kecil ini nyaris membuat saya salut dan kagum subhanallah betapa agungnya nilai keberagamaan dan nilai-nilai islam di negeri seribu menara ini, barang kali inilah perbedaan mencolok antara indonesia dan Mesir, kalau di indonesia yang saya temui hanyalah seorang wanita berlengkak-lengkok menggoyangkan pinggulnya dan di saksikan oleh para ribuan penonton, dan lebih parah lagi media TV menyiarkan hal-hal seperti itu.justru sebaliknya di Mesir wanita di muliakan seperti kejadian kecil di atas. Rasanya kita musti belajar lebih banyak tentang akhlakul karimah dari negeri Tempat Imam Syafi'i dimakamkan ini.

Pak Harto Juga Orang Islam

Betapa hatiku takkan pilu telah gugur pahlawanku, kutipan lagu gubahan WR supratman terputar kembali, saat Pak Harto benar-benar meninggalkan kita. Presiden yang paling lama memerintah Indonesia setelah delapan kali keluar-masuk rumah sakit. Presiden yang memimpin kita selama 32 tahun, menutupkan mata untuk selama-lamanya tepat di hari minggu, 27 Januari 2008 kemaren

Harimau mati meninggalkan belang, begitu ungkapan yang sering kita ucapkan setelah meninggalnya seorang tokoh yang pernah mempunyai jasa pada diri kita semua, seperti Pak Soeharto yang pernah duduk di atas kursi keprisidenan, seorang yang pernah memimpin kita seorang yang pernah menjadikan kemajuan di bidang ekonomi yang baik dan kondusif di masa kepemimpinannya. tapi ketika orang yang meninggalkan itu meninggalkan goresan luka, tak ada yang akan pernah menyanjungnya bahkan meskipun orangnya telah tiada ia malah sedih karena sakit hatinya belum terobati.

Diposisi itulah sekarang alm. mantan presiden RI, Soeharto. meski jasadnya sudah tergolek rapi di dalam liang lahat, masih banyak juga orang yang mencacinya seperti yang terjadi di semarang dan Bali, para mahasiswa menolak pemberian gelar pahlawan pada Soeharto. Mahasiswa menilai, Soeharto bukanlah sosok pahlawan yang berhasil membawa bangsa ini ke arah yang benar dan mensejahterakan rakyat. "Sebaliknya, Soeharto menjerumuskan bangsa ini ke jurang kemiskinan dan keterpurukan," kata mahasiswa Jurusan Sejarah Universitas Diponegoro Semarang Ahmad Yusuf, Rabu (29/1) .

Selaian itu penolakan juga datang dari Ketua Fraksi Partai Persatuan Pembangunan Lukman Hakim Syaefuddin mengatakan usulan pemberian gelar pahlawan kepada almarhum mantan presiden Soeharto tidak bisa dilakukan secara tergesa-gesa. "Ada empat hal yang harus diklarifikasi dulu," katanya saat dihubungi Tempo, Selasa (29/01). dilain tempat Semaun menambahkan "Data kejahatan kemanusiaan Soeharto sangat banyak. Kami masih menyimpan itu dan kalau ada yang kurang lengkap sangat mudah mencarinya," kata Ketua Lembaga Perjuangan Rehabilitasi Korban Rezim Orde Baru (LPR-KROB) Semaun Utomo di Semarang, (30/1). atas kekecewaan tidak terhakiminya mantan presiden Soeharto.ia menambahkan bahwa sidang kepada Soeharto belum selesai.

Siapa yang tidak benci kepada Pak Soeharto bagi korban ketidakadilan politik Soeharto, kematian sang mantan presiden tetap menyisakan kesedihan yang amat dalam. Meski dalam ketegaran dan keniscayaan, kepergian abadi Soeharto menjadi berita rumit yang tetap menarik untuk dituntaskan untuk mengadili Jenderal terkuat yang saat berkuasa mampu menyihir banyak orang pintar menjadi bebek-bebek, membuat wakil-wakil rakyat menjadi geram, dan membuat pers tiarap sekian lama, dan kini telah tiada.

Saya teringat ketika Dunia melepas salah seorang pembuat sejarah yang penuh kontroversi juga, Sukarno. Banyak orang menyayanginya, tapi banyak pula yang membencinya. seperti masalah Soeharto saat ini Namun semua sepakat, Soekarno adalah seorang manusia yang tidak biasa. Yang belum tentu dilahirkan kembali dalam waktu satu abad. Dan manusia itu kini telah tiada.
Dan kesepakatan itu rasanya sulit untuk kita berikan kepada Pak Harto, kalau Pak Karno berita kontrovesinya masih dalam tanda tanya dan masih butuh penelitian, justru Soeharto dinyatakan sebagai tersangka penyalahgunaan uang dana yayasan sosial yang dipimpinnya pada tanggal 31 Maret 2000.

Dan sebagai konsekwensinya Anggota tim pengacara negara, Yoseph Suardi Sabda mengatakan, (30/1) semua anak Soeharto memiliki tanggung jawab dan beban yang sama untuk menggantikan posisi Soeharto sebagai tergugat I dalam kasus perdata Yayasan Supersemar, sebagian kasus Soeharto.

Bagaimanapun, kini Pak Harto benar-benar telah tiada dan kita juga tidak tahu persis, apakah beliau bersalah atau tidak. Namun, untuk hati-hatinya, terutama karena Pak Harto, Haji Muhammad Soeharto, adalah seorang muslim yang percaya akan hari akhir, alangkah baiknya kita semua bercermin pada adat orang jawa.

Di daerah jawa, bila ada seorang muslim atau muslimah meninggal, pada waktu upacara pemberangkatan jenazah, biasanya wakil keluarga menyatakan kepada hadirin hadirat yang melayat: "Almarhum adalah manusia biasa, maka apabila semasa hidupnya almarhum dalam pergaulan dengan bapak-bapak dan ibu-ibu mempunyai kesalahan, kami keluarga mohon sudilah kiranya bapak-bapak dan ibu-ibu memaafkannya. Apabila di antara bapak-bapak dan ibu-ibu ada perkara yang menyangkut hak-hak Adami yang menjadi tanggungan almarhum, jika sekiranya tanggungan itu dapat diikhlaskan, keluarga sangat bersyukur dan berterima kasih. Namun, jika tidak, hendaknya yang bersangkutan segera menghubungi keluarga agar dapat diselesaikan dengan sebaik-baiknya dan tidak menjadi ganjalan kelak di Hari Pembalasan begitu komentar GusMus dalam salah satu situs di internet.

Saat Cinta Mulai Menyapa

Saat di tanya tentang cinta dia akan menjawab, Cinta adalah pengorbanan, cinta adalah perasaan yang suci dan tulus, namun ketika di tanya apakah kamu tulus dan ikhlas mencintai aku? Ia pun akan menjawabnya dengan kata iya, aku tulus ikhlas kok! Sekilas makna tulus dan ikhlas membuat saya untuk berfikir, seperti apa yang di namai cinta yang tulus dan ikhlas, apakah cinta antar jenis yang berbeda kaum adam dan hawa sebelum menikah adalah cinta yang tulus dan ikhlas? Ketika itu aku pun mencoba mencari titik temu antaranya dengan cinta ibu pada anak. Dari sini aku tahu ternyata banyak titik perbedaan antara keduanya cinta ibu itulah cinta yang paling murni di antara manusia tidak dikotori oleh nafsu menyenangkan diri sendiri, yakni tulus dan ikhlas yang berlandaskan pengorbanan demi untuk kesenangan dan kebaikan dia yang dicinta yakni anaknya. Seorang ibu tak berharap anaknya akan membalas cintanya, ia hanya ingin agar anaknya senang dalam hidupnya, asal anaknya senang ia rela berkorban, rela bersusah payah tanpa mengharapkan upah sedikitpun. Berbeda dengan cinta yang selalu meng­hendaki agar orang yang dicinta itu hidup berbahagia BERSAMA DIA SENDIRI. Menghendaki agar orang yang dicinta itu menjadi miliknya yang mutlak, selama hidup berada di sampingnya untuk di­puja, untuk dicinta, untuk pelepas da­haga, cinta ini penuh dengan harapan, penuh dengan pamrih dan karenanya penuh dengan duka nestapa dan sengsara mendatangi. Dan inilah cinta yang berlandaskan nafsu.

Saat itu juga membuatku bernostalgia dengan zaman di saat islam mulai berjaya dengan mercusuarnya. Saat-saat indah saat Imam Ghazali ketika menulis Ihya’ Ulumuddin, berbeda dengan zaman modern sekarang ini, zaman yang kata Yusuf Qardhawi, zaman yang penuh dengan kebobrokan moral., zaman yang bukan seperti zaman Siti Nurbaya. Dan zaman disaat para pemuda tak lagi peduli lagi akan nilai-nilai akhlak, seakan batas-batas antar kebatilan dan kebenaran menjadi sama, tak dapat dipisahkan.

Disaat musik-musik band menjadi suatu idola dan kebanggan di mata anak muda, disaat televisi-televisi menawarkan suguhan acara-acara bernuansa cinta, saat itu juga anak-anak muda berlomba-lomba seperti idola mereka, dengan mnengkonsumsi musik-musik. Bahkan ada yang bilang nggak gaul kalau tidak tahu perkembangan musik. Mereka berlomba-lomba membuat kisah cinta layaknya selebriti-selebriti, dengan semakin mengaplikasikan dalam bentuk pecaran, sampai lupa akan tugasnya sebagai generasi bangsa, belajar-dan terus belajar.

Benar, memang susah kita ingin menjauhi dari rasa cinta dan saya rasa itu memang hasrat manusia yang alami dari sananya, sebagai fithrah ilahi yang digarisakan pada manusia. Jalaluddin Rumi pun telah menggambarkan dari jauh-jauh abad yang lalu, tentang cinta ia menggambarkan bahwa cinta merubah yang pahit menjadi manis, tanah menjadi biji emas, suatu yang keruh menjadi terasa bening, rasa sakit menjadi seperti obat, penjara laksana sebuah taman, dan sakit adalah sebuah kenikmatan,.

Sungguh dan sangat indah begitu kira-kira satu kata yang dapat aku simpulkan, karena aku sendiri juga pernah mengalaminya, dan bagi kita yang tidak mempunyai rasa ketaqwaan pada Tuhan, kita akan menghalalkan segala cara untuk dapat menyalurkan hasrat biologis kita, bisa dengan berpacaran, bisa dengan bersepi-sepi berduaan dengan si kekasih, bahkan hari-hari kita diisi dengan kesibukan memikirkan sang kekasih. Menunggu dan terus menunggu itu konsekuensi yang di dapat darinya.

Cinta seakan membuat seseorang itu buta dengan hakikat cinta, Jalaluddin Rumi saat di tanya kepada siapa kita harus mencinta? Dia menjawab dengan ucapannya, “sesungguhnya cinta yang abadi hanyalah patut kita sandingkan pada dzat yang abadi. Dan inilah cinta para Nabi dan para ahli hikmah”.

Cinta beda jenis, buatku adalah anugerah yang patut kita syukuri atas diberinya kita hasrat untuk bisa mencintai, tapi kita juga tidak bisa mensikapinya dengan cara yang dapat membuat kita terlena, dapat membuat kita lupa akan hakikat diri kita, apa lagi melanggar larangan-larangan Tuhan, Naudzu billah. Cinta anak-anak muda sebelum menikah hanyalah cinta yang tidak tulus karena kita masih meminta banyak darinya. Buatku lebih baik di masa muda kita isi dengan hal-hal yang bermanfaat buat diri kita untuk masa depan diri kita, nusa dan bangsa kita. Dan mungkin lebih baik menunggu dari pada mengharap sesuati yang tidak pasti yang hanya dapat membuat kita resah dan gelisah.

Sedikit Kata Tentang Saya

Bahak, Blogger dan pecinta Islamic Economies. Asli Warga Rembang, Jawa tengah, tinggal di Cairo, Egypt (walaupun sampai saat post ini dibuat, yang bersangkutan belum mempunyai KTP Mesir). pendiem, ceplas-ceplos, tidak terlalu bertanggung jawab, dan sangat menyukai gadis berjilbab besar (kalo tak ada yang gadis, janda juga ndak papa)

 
/* Hargailah Si Pembuat Template Dengan Tidak Menghilangkan Credit Di Bawah Ini Bikin Template Susah Bro..!!! */